CAR naik saat bank makin kecil
Laporan publikasi posisi Juni 2026 sudah bisa diunduh. Kami mengambil 1.249 laporan BPR posisi Juni 2026, mengelompokkannya menurut besar aset, lalu melihat angka tengah tiap kelompok.
Hampir semua kolom memburuk dari kelompok bank besar ke kelompok bank kecil. Hanya satu kolom yang bergerak ke arah sebaliknya.
Laporan publikasi BPR, OJK; diolah IDEAL
| Kelas aset | Jumlah BPR | NPL gross | CAR | BOPO | ROA |
|---|---|---|---|---|---|
| Rp1 triliun ke atas | 29 | 7,7% | 23,3% | 83,5% | 2,0% |
| Rp500 miliar – 1 triliun | 58 | 11,8% | 23,5% | 84,2% | 2,1% |
| Rp250 – 500 miliar | 95 | 9,5% | 24,9% | 83,8% | 2,2% |
| Rp100 – 250 miliar | 223 | 9,6% | 26,8% | 85,9% | 2,0% |
| Rp50 – 100 miliar | 297 | 14,5% | 33,4% | 89,1% | 1,7% |
| Rp25 – 50 miliar | 292 | 16,4% | 46,4% | 90,1% | 1,4% |
| Di bawah Rp25 miliar | 255 | 21,9% | 76,0% | 100,3% | 0,4% |
Semua angka adalah median, posisi Juni 2026.
Dari baris paling atas ke paling bawah, kredit bermasalah naik hampir tiga kali lipat, beban operasional naik, dan laba menyusut sampai tinggal seperlimanya. Rasio modalnya justru naik, dari 23,3 persen ke 76,0 persen.
Kalau CAR memang mengukur kekuatan, kelompok yang paling tertekan di empat kolom tidak mungkin sekaligus paling kuat di kolom kelima.
Tentang IDEAL
IDEAL BPR mengumpulkan laporan publikasi yang diterbitkan setiap BPR di situs OJK, menyeragamkan formatnya supaya bisa dibandingkan, lalu menyusunnya berderet: 1.863 bank, tujuh triwulan berturut-turut. Dari situ kami memberi skor dan peringkat dengan aturan yang kami umumkan terbuka.
Untuk artikel ini kami tidak menghitung ulang dari neraca. Rasio yang dipakai adalah rasio yang dilaporkan bank sendiri ke OJK. Kami hanya menjejerkannya.
Kami bukan OJK, dan skor kami bukan penilaian Tingkat Kesehatan resmi. Bahan kami cuma laporan yang terbuka untuk siapa saja. Bedanya, kami membacanya sekaligus, bukan satu per satu.
Cara CAR dihitung
CAR adalah modal dibagi aset tertimbang menurut risiko. Gampangnya, CAR membandingkan bantalan milik pemegang saham dengan besarnya risiko yang sedang ditanggung bank.
Setiap pecahan punya dua sisi. Hasil baginya bisa naik karena angka di atas bertambah, bisa juga karena angka di bawah menyusut. Di layar, hasilnya sama persis, padahal artinya jauh berbeda.
Median modal inti tiap kelompok menunjukkan mana yang sedang terjadi.
| Kelas aset | Modal inti | Aset | Modal terhadap aset |
|---|---|---|---|
| Rp1 triliun ke atas | Rp 189,68 miliar | Rp 1.455 miliar | 10,9% |
| Rp250 – 500 miliar | Rp 39,38 miliar | Rp 337 miliar | 11,2% |
| Rp50 – 100 miliar | Rp 10,42 miliar | Rp 69,81 miliar | 15,6% |
| Rp25 – 50 miliar | Rp 7,62 miliar | Rp 34,98 miliar | 22,0% |
| Di bawah Rp25 miliar | Rp 6,58 miliar | Rp 15,96 miliar | 41,4% |
Modal inti bank terkecil tidak menumpuk. Mediannya Rp 6,58 miliar, hampir persis di batas kewajiban modal inti minimum Rp6 miliar. Yang kecil adalah asetnya, cuma Rp 15,96 miliar.
Dari situ jawabannya kelihatan. Kewajiban modal minimum ditetapkan dalam rupiah, bukan dalam persen. Bank besar dan bank kecil harus menyediakan jumlah yang sama, dan di bank yang asetnya kecil, jumlah itu otomatis jadi persentase yang besar. Bank beraset Rp16 miliar yang sekadar memenuhi kewajiban itu akan punya rasio modal jauh di atas bank beraset Rp1 triliun yang juga sekadar memenuhinya.
Pola ini tidak cuma muncul di ujung tabel. Di seluruh 1.249 bank, makin kecil asetnya, makin tinggi rasio modalnya, dan hubungannya cukup kuat untuk terlihat jelas.
Modal tebal, usaha tertekan
Kalau rasio modal yang tinggi memang tanda kekuatan, kelompok terkecil seharusnya paling longgar. Kolom-kolom lain menunjukkan sebaliknya.
Median BOPO-nya 100,3 persen: untuk mendapat seribu rupiah pendapatan, bank di tengah kelompok itu mengeluarkan seribu tiga rupiah. Dari 255 bank di kelompok ini, 129 BOPO-nya di atas seratus persen. Lebih dari separuhnya mengeluarkan lebih banyak daripada yang mereka dapat.
Di kelompok beraset Rp1 triliun ke atas, bank seperti itu cuma dua dari 29.
Median NPL gross-nya 21,9 persen: dari setiap seratus rupiah yang dipinjamkan, hampir dua puluh dua rupiah tidak kembali sesuai jadwal. Bahkan seperempat bank yang NPL-nya paling rendah di kelompok ini masih mencatat 10,2 persen, lebih tinggi daripada median kelompok bank terbesar.
Ada satu angka lagi yang jarang disandingkan dengan CAR. Median cash ratio kelompok terkecil 31,4 persen, dua setengah kali kelompok terbesar yang 12,5 persen. Uang tunainya menumpuk, sementara kredit yang mestinya menghasilkan bunga malah bermasalah. Di sini likuiditas yang longgar tidak berarti bank itu siap menghadapi apa pun. Lebih mungkin, dananya belum menemukan penyaluran yang aman.
Kenapa tidak ada nama bank di artikel ini
Semua angka di atas adalah median kelompok, dan tidak ada satu pun bank yang kami sebut namanya. Ini kami sengaja. Rasio yang berat di satu triwulan tidak bisa dipakai untuk meramal kegagalan: ada bank yang sedang menjalankan rencana penyehatan, ada yang sedang merger, ada yang baru menanggung kerugian sekaligus untuk membersihkan neracanya. Menyebut nama di sebelah angka seperti ini sama dengan menuduh, dan tuduhan seperti itu bisa memicu penarikan dana yang justru mematikan bank yang masih bisa diselamatkan.
126 BPR belum memenuhi modal inti minimum
Batas modal Rp6 miliar tadi menjelaskan kenapa rasionya tinggi. Tapi tidak semua bank sudah memenuhinya.
Per Juni 2026, 126 BPR masih mencatat modal inti di bawah Rp6 miliar. Hampir semuanya ada di dua kelompok terkecil: 74 di kelompok di bawah Rp25 miliar, dan 34 di kelompok Rp25 sampai 50 miliar. Di kelompok beraset Rp500 miliar ke atas, tidak ada satu pun.
Jumlahnya sudah berkurang. Pada Desember 2024 masih ada 177 bank. Arahnya benar; yang masih jadi pertanyaan, seberapa cepat.
Membaca CAR dengan benar
Artikel ini tidak bermaksud mengatakan BPR kecil itu buruk. Dari 255 bank di kelompok terkecil, sebelas lolos seluruh gerbang kehati-hatian yang kami pasang, dan ukuran kecil sendiri bukan cacat.
Masalahnya, CAR tidak bisa dibaca sendirian. Di bank besar, CAR 23 persen memang menunjukkan pilihan pemiliknya soal permodalan. Di bank yang asetnya cuma belasan miliar, CAR 76 persen lebih banyak ditentukan oleh kecilnya aset daripada oleh sikap pemiliknya.
Jadi CAR baru bermakna kalau dibaca bersama tiga hal: besar aset banknya, asal modalnya, dan apakah pendapatannya masih bisa menutup biayanya. Angka CAR yang sama bisa berasal dari bank yang kuat, bisa juga dari bank yang sedang mengecil.
Batas data ini
Ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui sebelum memakai angka di atas.
- Semua angka berasal dari laporan yang diterbitkan bank sendiri. Kalau
laporannya salah, angka kami ikut salah. Kami tidak mengaudit siapa pun.
- Kami memakai rasio yang dilaporkan bank, bukan hitungan ulang dari neraca.
Kalau ada bank yang menghitung rasionya dengan cara lain, perbedaannya ikut masuk ke tabel di atas.
- Median menyembunyikan sebaran. Di tiap kelompok ada bank yang jauh lebih baik
dan ada yang jauh lebih berat daripada angka yang tercetak.
- Dari 1.292 BPR yang melapor pada Maret 2026, 43 belum ada datanya untuk Juni
- Kami tidak menganggap selisih itu sebagai bank yang tutup, dan
sebaiknya Anda juga tidak. Pembaruan 18 Oktober 2026: waktu artikel ini terbit kami menduga sebagian besar cuma belum menerbitkan laporan. Dugaan itu keliru. Sesudah dipilah, 37 dari 43 bank itu ternyata dilebur ke BPR lain.
- Kewajiban modal inti minimum yang kami pakai adalah ketentuan umum untuk BPR.
Kalau ada perlakuan khusus untuk bank tertentu, hal itu tidak terlihat di laporan publikasi.
Untuk pengurus BPR
Rasio modal bank Anda ada di laporan publikasi yang Anda terbitkan sendiri, dan posisinya dibanding bank sekelas bisa dilihat di matriks IDEAL tanpa perlu menghitung apa pun. Yang lebih berguna dari angkanya adalah sebabnya: apakah rasio itu tinggi karena modalnya memang tebal, atau karena asetnya sedang menyusut.
Cara kami menyusun skor dan gerbangnya bisa dibaca di halaman metodologi. Kalau menurut Anda ada angka di artikel ini yang salah membaca laporan bank Anda, jalur koreksi dan hak jawabnya ada di bagian 10. Setiap perbaikan kami kerjakan dan kami catat.
IDEAL adalah alat analisis independen berbasis laporan publikasi OJK (cfs.ojk.go.id), bukan Tingkat Kesehatan (TKS) resmi OJK, bukan rekomendasi penempatan dana, dan bukan jaminan atas kondisi BPR mana pun. Angka yang dikutip di artikel ini berasal dari laporan yang bank publikasikan sendiri dan dapat ditelusuri ulang oleh siapa pun. Keberatan atau hak jawab: lihat Koreksi & hak jawab.


