Metodologi IDEAL

Bagaimana IDEAL Menentukan Predikat BPR

IDEAL mengubah laporan publikasi OJK menjadi satu skor dan predikat yang bisa dibandingkan antar-BPR. Halaman ini menjelaskan formulanya secara runut: dari data mentah, ke skor, ke predikat, sampai gerbang kehati-hatian yang menyaring "BPR IDEAL Terbaik".

Semua input berasal dari laporan publikasi OJK (cfs.ojk.go.id) dan dapat diverifikasi siapa pun. Bukan Tingkat Kesehatan (TKS) resmi OJK.

1Dari mana datanya

Setiap triwulan, BPR wajib mempublikasikan laporan keuangannya melalui OJK: neraca, laba rugi, kualitas aset produktif, dan informasi lain. IDEAL mengunduh laporan ini untuk seluruh BPR, lalu memetakan tiap baris ke indikator yang bermakna.

Bedanya dengan pemeringkatan sejenis yang hanya memotret satu tahun buku: IDEAL menyimpan deret triwulanan yang terus bertambah: delapan periode sejak 2024 Q4 di dapur datanya, enam di antaranya (2025 Q2 sampai rilis terbaru) tersaji langsung di matriks; dua periode tertua dipakai untuk kalibrasi, backtest, dan pembanding pertumbuhan. Tampilan tren bakunya lima triwulan terakhir (satu perbandingan tahunan penuh) dengan deret lengkap sekali klik. Ini penting, karena sebuah bank bisa terlihat sehat pada satu potret, sedangkan riwayatnya menunjukkan apakah kondisi itu bertahan konsisten atau baru membaik menjelang tanggal pelaporan. Riwayat inilah yang nanti membuat gerbang penyaring kami lebih tajam.

Batas data yang perlu diketahui

Tiga keterbatasan melekat pada sumbernya dan tidak bisa dihilangkan oleh pengolahan mana pun, jadi lebih baik disebut di depan. Pertama, laporan publikasi triwulanan tidak diaudit: setiap halamannya menyatakan itu sendiri; hanya posisi Desember yang lazim diperiksa akuntan publik, sehingga angka triwulan berjalan bisa direvisi. Kedua, kalibrasi kami dihitung dari populasi penyintas. Ambang seperti median NPL industri diturunkan dari bank yang masih menerbitkan laporan; bank yang sudah ditutup tidak menyumbang angka, sehingga potret industri yang tersaji sedikit lebih sehat daripada kenyataannya, dan "hilang dari laporan" dalam pengujian kami bisa berarti dicabut izinnya, bisa juga merger yang sehat. Ketiga, satu tanggal bisa dirias. Rasio yang dipotret pada akhir triwulan dapat ditambal menjelang tanggal laporan (kas dan modal terutama); mitigasi kami adalah deret: gerbang CAR lintas triwulan di penyaring Terbaik dan tren per indikator. Hanya saja indikator yang dibaca satu titik tetap memotret satu titik.

Bank hasil penggabungan. Ketika sebuah BPR menyerap BPR lain dalam grup pemilik yang sama, kolom "posisi tahun lalu" di laporan publikasinya tidak disajikan ulang. Posisi berjalannya sudah memuat bank yang dilebur, pembandingnya belum, sehingga tanpa penyesuaian bank itu terbaca tumbuh berlipat dalam setahun. Untuk triwulan penggabungan dan tiga triwulan sesudahnya, IDEAL mengganti pembanding itu dengan posisi gabungan: bank induk ditambah setiap bank yang dilebur, pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan, penyebut rata-rata (Biaya Dana, Cost of Risk, ROE), jembatan aset, dan estimasi hapus buku memakai basis yang sama. Penggabungan dibaca dari laporan publikasi sendiri: laporan sebuah BPR berhenti terbit, dan anggota grup kepemilikan yang sama melonjak hampir persis sebesar aset, kredit, tabungan, dan depositonya. Bila susunannya tidak bisa dipastikan, pertumbuhannya dinyatakan tak bermakna (n/b) dan bobotnya dibagi ke indikator lain di dimensinya, bukan ditebak. Bank seperti ini bertanda ⊕ di kepala kolomnya.

Blok rasio yang terbit kosong. Di setiap periode ada dua sampai belasan BPR yang blok rasionya di laporan publikasi terbit seluruhnya 0,00, padahal tabel kredit dan neracanya berisi; unduhan ulang memberi hasil yang sama. Nol seperti itu bukan kondisi bank, jadi tidak dinilai. NPL Gross dihitung dari kolom kolektibilitas, BOPO dari laba rugi, dan LDR dari neraca, semuanya di laporan yang sama. CAR dan Cash Ratio membutuhkan angka yang tidak diterbitkan, sehingga dibiarkan kosong dan predikat bank itu dibatasi sampai rasionya terbit, dengan alasan yang tertulis di profil banknya.

2Lima dimensi: kerangka IDEAL

Nama IDEAL adalah singkatan dari lima dimensi yang dinilai. Total bobotnya 100, dibagi ke 16 indikator.

DimensiMenilaiBobot
I — Investment QualityKualitas aset: kredit bermasalah, kecukupan cadangan, aset produktif bermasalah23%
D — Dynamic EfficiencyEfisiensi operasional dan margin bunga15%
E — Earnings PerformanceProfitabilitas, arah laba, dan harga risiko kredit17%
A — AdequacyKekuatan modal dan daya serapnya terhadap aset bermasalah25%
L — Liquidity PositionKeseimbangan penyaluran, bantalan kas, dan kemandirian dana20%
DimensiIndikator & bobot
I · 23%NPL Gross 8% · Kolek-2/Aset Produktif 7% · Kecukupan CKPN 5% · APB Neto/Aset Produktif 3%
D · 15%BOPO 9% · Biaya Dana 3% · NIM 3%
E · 17%ROA 9% · Growth Laba 3% · Cost of Risk 5%
A · 25%CAR (KPMM) 9% · MIAPB 12% · Growth Modal Inti 4%
L · 20%LDR 7% · Cash Ratio 6% · Pendanaan Non-Inti 7%

Permodalan memikul bobot terbesar. Modal adalah penyangga terakhir sebelum dana nasabah tersentuh, dan pada BPR yang benar-benar dicabut izinnya, modallah yang retak lebih dulu. Kualitas aset menyusul rapat di 23%, lalu likuiditas 20%. Kredit macet menggerus perlahan, sementara dana antarbank bisa ditarik seketika.

Dasar penetapan bobot

Bobot di atas bukan hasil selera. Kerangkanya disandingkan baris per baris dengan penilaian Tingkat Kesehatan yang dipakai pengawas, yaitu POJK 3/POJK.03/2022 dan SEOJK 11/SEOJK.03/2022. Aturan itu menilai empat faktor: Profil Risiko 25%, Tata Kelola 30%, Rentabilitas 15%, dan Permodalan 30%.

Perbandingan itu memperlihatkan tiga hal yang perlu dibenahi. Rumpun efisiensi dan laba dulu memikul 32% padahal faktor Rentabilitas versi pengawas hanya 15%, dan komponennya berhimpit secara mekanis: ROA kira-kira setara (1 − BOPO) dikali produktivitas aset. Permodalan justru sebaliknya, hanya 15% berbanding 30%, dan diukur hanya lewat CAR. Sementara metrik pertumbuhan menyerap 16% bobot padahal penilaian TKS tidak memberinya bobot sama sekali.

Penyetelan ulangnya mengikuti temuan itu. Rumpun laba diturunkan, permodalan dinaikkan dan diberi alat ukur kedua, dan bobot pertumbuhan dipangkas ke 7%. Yang tersisa dari pertumbuhan hanya dua yang terbukti punya daya ramal: Growth Modal Inti dan Growth Laba.

Satu hal tidak bisa dibenahi. Faktor Tata Kelola memikul 30% bobot TKS dan seluruhnya bersandar pada penilaian sendiri yang tidak pernah dipublikasikan. Keterbatasan ini melekat pada semua analisis berbasis data publik, termasuk yang ini. Yang bisa dilakukan hanya menjaganya lewat gerbang, bukan lewat bobot (lihat bagian 5).

Dua rasio yang ditambahkan

MIAPB (Modal Inti terhadap Aset Produktif Bermasalah Neto) adalah komponen kedua faktor Permodalan dalam penilaian TKS, berdampingan dengan KPMM. Rumusnya modal inti dibagi aset produktif bermasalah neto. Rasio ini menjawab pertanyaan yang tidak dijawab CAR: bukan seberapa besar modalnya, melainkan apakah modal itu sanggup menyerap masalah yang sudah ada di neraca.

Ambang peringkat pengawas: peringkat 1 di atas 200%, peringkat 5 di bawah 120%. Pada data 2026 Q2 dari 1.249 BPR, 271 bank (21,7%) jatuh ke peringkat 5. Sebagai pembanding, CAR di populasi BPR nyaris seragam tinggi dengan median 38%, sehingga daya bedanya kecil.

Mengapa CAR saja tidak cukup

Dari 271 BPR ber-MIAPB peringkat 5 itu, 204 di antaranya justru ber-CAR di atas 15%, yang menurut ambang KPMM berarti peringkat 1. Dibaca dari CAR-nya saja, bank-bank ini tampak paling kuat modalnya. Dibaca dari kemampuan modal itu menyerap aset bermasalah yang sudah ada, mereka justru paling tipis. Titik buta inilah yang ditutup MIAPB.

Cakupan MIAPB juga lebih luas daripada NPL. NPL hanya membaca kredit, sedangkan aset produktif bermasalah ikut menghitung surat berharga, penempatan pada bank lain, dan penyertaan modal. Karena itu ditambahkan pula baris APB Neto/Aset Produktif sebagai pelengkap NPL.

Cost of Risk mengisi lubang yang berbeda. NPL mengukur stok masalah di neraca; Cost of Risk mengukur harga yang dibayar laba rugi tahun berjalan, yaitu beban pencadangan disetahunkan terhadap kredit. Dua bank sama-sama ber-ROA 3% sangat berbeda kalau yang satu membayar 0,5% biaya risiko dan yang lain 6%. Yang kedua labanya rapuh terhadap satu tahun buruk berikutnya, dan sebelumnya perbedaan itu tidak terbaca sama sekali di skor.

Dari 19 rasio yang diuji sebagai kandidat tambahan, hanya Cost of Risk yang lolos tiga syarat sekaligus: cakupan data 99,8%, korelasi tertinggi terhadap indikator berbobot lain hanya 0,37 sehingga menambah informasi baru alih-alih mengulang NPL, dan daya pisah 1,9 kali terhadap BPR yang benar-benar dicabut izinnya.

Dua catatan tentang angka MIAPB

Aturan pengawas menghendaki penyebutnya dikurangi PPKA atas aset bermasalah itu sendiri, sedangkan laporan publikasi hanya menerbitkan CKPN total tanpa pecahan per kolektibilitas. Sampai v5.1, seluruh CKPN itu dipakai menetokan (termasuk cadangan umum milik aset Lancar) sehingga MIAPB terhitung lebih besar dan biasnya selalu menguntungkan bank; terukur, 63 dari 1.249 bank naik satu peringkat penuh karenanya. Sejak v5.2, porsi cadangan umum ditaksir 0,5% dari aset produktif Lancar (tarif PPAP umum BPR) dan dikeluarkan dari netting. Taksiran tetap taksiran, sebab pecahan per kolektibilitas memang tidak diterbitkan. Arah sisanya jauh lebih dekat ke definisi pengawas, dan bank yang rajin mencadangkan tidak lagi tampak "menghapus" aset bermasalahnya dengan cadangan atas aset sehat.

Modal inti juga tidak diterbitkan sebagai satu pos, jadi direkonstruksi dari pos ekuitas mengikuti POJK KPMM BPR: modal disetor, agio, cadangan umum dan tujuan, laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan (diakui penuh sejak posisi Maret 2025 menurut SEOJK 2/SEOJK.03/2025, sebelumnya separuh), ditambah surplus revaluasi aset tetap sejak POJK 7/2026 berlaku pada posisi Juni 2026, lalu dikurangi aset tidak berwujud dan kekurangan pencadangan. AYDA dan properti terbengkalai yang dikuasai lebih dari setahun juga pengurang menurut aturannya, tetapi umur asetnya tidak diterbitkan, sehingga pengurang itu tidak bisa ikut dihitung. Kekurangan pencadangan itu sendiri diturunkan dari rasio "Cadangan terhadap PPKA" yang diterbitkan OJK. Hasilnya bukan Total Ekuitas: umumnya lebih kecil, dan bank yang kurang mencadangkan tidak bisa menyamar bermodal tebal.

Rekonstruksi modal inti itu juga dipakai gerbang daya-serap modal di bagian 5 dan 7, sehingga gerbangnya lebih ketat daripada bila memakai ekuitas mentah.

Indikator yang menghadap ke depan

Sampai pertengahan 2026, dimensi kualitas aset seluruhnya menghadap ke belakang. NPL Gross memikul 12%, bobot terbesar di seluruh matriks, dan NPL adalah catatan tentang kredit yang sudah macet. Laporan Kualitas Aset Produktif yang jadi sumbernya sebenarnya memuat lima kolom kolektibilitas (Lancar, Dalam Perhatian Khusus, Kurang Lancar, Diragukan, Macet). Kolom kedua tidak pernah dipakai.

Kolektibilitas 2 berisi kredit yang menunggak antara 1 dan 90 hari. Kredit itu belum masuk hitungan NPL, dan justru dari sanalah NPL berikutnya datang.

Pengujiannya memakai 1.219 BPR yang datanya lengkap dari Juni 2025 sampai Juni 2026. Sasarannya pertumbuhan kredit macet dalam rupiah, bukan rasio, karena penyebut rasio ikut tumbuh dan menyamarkan hasilnya.

Kuartil Kolek-2 pada Juni 2025Pertumbuhan kredit macet setahun kemudian
0,0% – 3,7% (terendah)+0,7%
3,7% – 7,7%+3,7%
7,7% – 13,0%+4,8%
13,1% – 64,0% (tertinggi)+18,9%

Pembandingnya yang paling menentukan, bukan angka di atas. NPL Gross berkorelasi negatif dengan pertumbuhan kredit macet (rho −0,275). Bank yang NPL-nya sudah tinggi tidak naik lagi, karena angkanya sudah mentok. NPL menyatakan posisi hari ini; Kolek-2 menyatakan arah. Bobot 12% dulu seluruhnya ditaruh pada yang pertama, jadi 4 poin dipindahkan ke yang kedua.

Apakah perubahan bobot ini benar-benar membantu?

Menambah indikator selalu mengubah angka. Yang perlu dibuktikan adalah apakah tambahan itu membuat skornya lebih baik membedakan, dan jawabannya tidak seragam. Terhadap biaya pencadangan setahun kemudian di seluruh populasi, bobot lama justru sedikit lebih baik (rho −0,254 berbanding −0,242). Itu wajar: NPL Gross memang peramal biaya pencadangan terbaik, jadi mengurangi bobotnya menurunkan korelasi itu.

Ukuran yang menentukan adalah daya pisah pada sasaran yang tidak terkonfound. Diukur di seluruh populasi, "turun predikat" adalah sasaran yang rusak: bank yang sudah di tingkat terendah tidak bisa turun lagi, sehingga skor tinggi otomatis tampak lebih sering memburuk. Dibatasi ke bank yang titik awalnya sama-sama baik, hasilnya konsisten:

KelompokBobot lamaBobot baru
Berpredikat IK-1/IK-2 yang setahun kemudian turun0,6150,631
Ber-NPL di bawah 5% yang setahun kemudian turun0,5550,564
Ber-NPL di bawah 5% yang biaya risikonya melonjak0,6940,697

Angkanya adalah peluang bank yang kemudian memburuk berskor lebih rendah daripada yang bertahan; 0,500 berarti tidak bisa membedakan sama sekali. Perbaikannya sederhana, tetapi searah di setiap potongan dan paling besar persis pada kelompok yang jadi alasan indikator ini ada: bank yang hari ini terlihat bersih. Skor komposit adalah penilaian kondisi, bukan ramalan biaya pencadangan, jadi pertukaran itu diambil dengan sadar dan dicatat di sini apa adanya.

Sebarannya pada Juni 2026: median 6,7%, kuartil atas mulai 11,9%, persentil ke-90 di 18,3%. Sepertiga populasi menyimpan Kolek-2 lebih besar daripada seluruh aset bermasalahnya, dan ada 17 BPR ber-NPL di bawah 5% yang Kolek-2-nya melewati 15%, yaitu bank yang hari ini terbaca bersih dengan antrean yang sudah panjang. Baris Tidak Lancar / Aset Produktif di Ruang Periksa menjumlahkan keduanya supaya terlihat berapa bagian buku kredit yang sesungguhnya belum aman.

Yang sengaja tidak dibobot

Tidak setiap angka penting layak diberi bobot. Sebuah indikator baru berguna sebagai bobot kalau nilainya bergradasi di seluruh populasi. Kalau mayoritas bank berkumpul di ujung yang sama, bobotnya terbayar sebagai konstanta dan tidak membedakan apa-apa. Enam indikator karena itu tetap ditampilkan tanpa menggerakkan skor, masing-masing dengan alasannya sendiri.

IndikatorMengapa tidak dibobotTetap dijaga lewat
Kredit Pihak Terkait/KYD72% bank berskor nyaris penuh, sehingga bobot 5% hanya menghasilkan 0,90 poin sebaranGerbang predikat (≥25%)
AYDA/Aset65% bank berskor nyaris penuh; 23 dari 24 bank ber-AYDA tinggi sudah berpredikat rendah tanpa bantuan bobotnyaGerbang predikat (≥12%)
NPL NettKorelasi peringkat 0,94 dengan NPL Gross dan 0,94 dengan APB Neto/AP, jadi risiko yang sama dihitung tiga kaliPopover NPL Gross
Ketebalan CKPNTidak menambah daya ramal di atas NPL Gross, yang memprediksi beban pencadangan tahun berikutnya 2,5 kali lebih baikRuang Periksa, kelompok Bantalan & Pencadangan
ROEKorelasi 0,81 dengan ROA, dan menghukum modal tebalDiagnosa Silang (ROE × CAR)
Growth KYD & Growth DPKMenambah volume kredit macet, tetapi tidak menaikkan rasio NPL maupun biaya risiko yang ditanggung laba rugiDiagnosa Silang

Dua di antaranya perlu penjelasan lebih, karena keputusannya berlawanan dengan dugaan awal.

ROE menghukum modal tebal. Dugaan lazimnya modal tipis menaikkan ROE. Di populasi BPR justru tidak begitu, karena 75% bank ber-CAR di bawah 15% sedang merugi sehingga median ROE-nya negatif. Yang sebenarnya terjadi terlihat pada bank yang labanya positif: kelompok ber-CAR 15–30% mencatat median ROA 2,12% dengan ROE 15,1%, sementara kelompok ber-CAR di atas 60% mencatat median ROA 3,35% (tertinggi), sedangkan ROE-nya hanya 7,1%. ROE berbobot akan menurunkan nilai bank yang paling untung sekaligus paling kuat modalnya.

Bobot bukan alat yang tepat untuk kondisi langka. Kredit pihak terkait dan AYDA mengukur kondisi yang jarang terjadi, namun berbahaya saat terjadi. Bobot menanganinya dengan buruk: sebuah BPR yang menyalurkan 97,7% kreditnya ke pihak terkait tetap berpredikat IK-1 "Sangat Kuat" dengan skor 88,1, karena kehilangan 5 poin di satu indikator lalu diangkat kembali oleh 95 bobot lainnya. Itu persis kegagalan kompensatoris yang jadi alasan gerbang ada. Setelah instrumennya ditukar jadi gerbang, sebelas bank yang tadinya IK-1 atau IK-2 turun ke IK-3, termasuk BPR tersebut.

Ketimpangan yang dibiarkan

Dua pola berikut sudah diukur ke seluruh populasi. Yang kedua memang perilaku yang benar dan tetap dibiarkan. Yang pertama dibiarkan sampai v4.8, lalu ditindaklanjuti. Catatan aslinya disimpan utuh di bawah ini, diikuti apa yang berubah, supaya jalan pikirannya bisa ditelusuri dan bukan dihapus.

Dimensi Permodalan mendatar di ujung atas. Bobotnya 30%, padahal sumbangannya terhadap sebaran skor hanya 11,4 poin, karena mayoritas bank berskor tinggi di sana. Diperiksa per desil, gambarannya berubah:

Desil skor AMIAPB medianCAR medianPorsi MIAPB <120%
1 (terbawah)41%14,8%98%
290%27,4%93%
3138%32,1%18%
4–10213–719%40–53%0%

Dimensi A memisahkan dengan tajam di tiga desil terbawah, tepat pada bank yang permodalannya bermasalah, lalu mendatar di atasnya karena bank di sana memang ber-MIAPB 213–719% dan CAR 40–53%. Tidak ada lagi yang bisa dibedakan. Memaksanya menyebar berarti mengarang perbedaan yang secara prudensial tidak ada, dan satu-satunya caranya adalah mengembalikan hadiah untuk penimbunan modal yang justru sudah dihapus. Modal adalah lantai, bukan lomba.

Sampai v4.8 kesimpulannya berhenti di situ, dan mendatarnya dibiarkan. Pilihannya waktu itu dibaca sebagai dua saja: memaksa ukurannya menyebar, atau membiarkannya. Ada pilihan ketiga yang tidak diajukan: kalau ukurannya memang mendatar, pantaskah ukuran itu memikul bobot terbesar? Pada v4.9 pertanyaan itu diajukan; jawabannya di bagian berikutnya.

Diperiksa pula apakah perlu gerbang tambahan untuk bank yang modalnya tak sanggup menyerap kredit macet. Dari 185 BPR dengan daya serap 100% atau lebih, 184 sudah berpredikat IK-4 atau IK-5 lewat skornya sendiri. Gerbang semacam itu hanya akan menurunkan predikat satu bank dari 1.249.

NPL Gross dan APB Neto/AP berkorelasi 0,87. Sekilas ini duplikasi seperti NPL Nett yang sudah dibuang. Setelah APB dipecah antara bagian kredit dan non-kredit, sebabnya jelas: hanya 15,5% BPR punya aset produktif bermasalah di luar kredit, dan bahkan di persentil ke-90 porsinya hanya 0,44% dari aset produktif. Untuk 84,5% bank, APB Neto memang NPL kredit yang dinyatakan ulang setelah dikurangi cadangan. Korelasi itu lahir dari aritmetika struktur neraca BPR, jadi tidak ada bobot terbuang yang bisa direkayasa hilang.

Membuangnya malah merugikan, sebab inilah satu-satunya jendela ke aset bermasalah non-kredit bagi 194 bank yang memilikinya, dan di situ barisnya terbukti berguna: empat BPR dengan aset non-kredit bermasalah terbesar pada 2026 Q2, antara 5,4% dan 21,3% dari aset produktif, semuanya sudah mendarat di band terburuk indikator ini.

Tiga kandidat yang diuji dan ditolak

Setiap usulan aturan Sinyal Kewaspadaan baru diuji lebih dulu ke BPR yang benar-benar dicabut izinnya. Terdengar masuk akal saja tidak cukup. Tiga kandidat gugur. Porsi laba non-operasional hanya terdefinisi saat laba positif, jadi justru kosong pada bank yang merugi menuju gagal. Beban restrukturisasi tidak muncul karena bank yang sudah rusak berat berhenti merestrukturisasi. Aset bermasalah non-kredit tidak dimiliki satu pun dari sembilan bank gagal yang diuji saat itu, sebab mereka semua mati karena kredit. Ketiganya akan menyalakan 11 sampai 197 bank sehat tanpa menangkap satu pun yang gagal.

Patokan internasional yang diuji: Texas Ratio

Analis bank kecil di Amerika Serikat lazim memakai Texas Ratio: kredit bermasalah ditambah aset sitaan, dibagi ekuitas ditambah cadangan; di atas 100% dianggap tanda bahaya. Versi BPR-nya bisa dihitung penuh dari laporan publikasi. Pada 2026 Q3 mediannya 46%, dan 221 dari 1.209 BPR berada di atas 100%. Diuji ke 1.480 BPR yang berangkat sehat di empat kohor setahun, daya pisahnya lebih rendah daripada NPL Gross maupun daya serap modal yang sudah dipakai di sini (tertekan setahun kemudian: 0,611 berbanding 0,730 dan 0,632). Rasio itu tidak ditambahkan karena tidak membawa informasi baru: di BPR, aset sitaan kecil dibanding kredit bermasalah, sehingga isinya hampir sama dengan NPL dibagi bantalan modal.

Bobot yang tidak mengerjakan apa-apa

Aturan di bagian Yang sengaja tidak dibobot berpijak pada hal yang sama: sebuah indikator berguna sebagai bobot hanya kalau nilainya bergradasi. Selama ini aturan itu hanya dipakai untuk memutuskan indikator mana yang boleh masuk. Pada v4.9 penggaris yang sama diarahkan ke indikator yang sudah lama ada. Yang paling melanggar ternyata justru yang bobotnya paling besar.

93,1% dari 1.249 BPR punya CAR di atas 15%, dan pitanya sengaja berhenti menaik di titik itu sejak v4 karena 15% adalah ambang peringkat 1 pengawas. Artinya untuk 93 bank dari setiap 100, CAR menyumbang bilangan yang sama persis ke skor akhir. Bilangan yang sama bagi hampir semua orang tidak mengurutkan siapa pun.

IndikatorBobot sebelum v4.9Bank berskor penuhPengaruh nyata
MIAPB12%48%404
LDR7%0%382
ROA9%29%340
BOPO9%0%333
NPL Gross8%1%323
Pinjaman Bank Lain/KYD7%0%209
CAR (KPMM)14%93%190
Kolek-2/Aset Produktif4%2%108
Cost of Risk3%3%75

Pengaruh nyata di kolom terakhir adalah bobot dikali simpangan baku skor parameternya, yaitu seberapa jauh sebuah indikator benar-benar menggeser peringkat. CAR waktu itu memikul bobot terbesar, padahal pengaruhnya di bawah LDR yang bobotnya separuh. Kolek-2 dan Cost of Risk kebalikannya: sebarannya lebar, jatahnya kecil. Lima poin karena itu dipindahkan dari CAR, tiga ke Kolek-2 dan dua ke Cost of Risk.

Ini bukan penurunan bobot permodalan yang sesungguhnya. Modal dijaga tiga lapis dan dua lapis lainnya tidak disentuh sama sekali: MIAPB tetap 12% dan kini menjadi indikator permodalan dengan pengaruh terbesar di seluruh matriks, sedangkan gerbang CAR di bawah 8% tetap membatasi predikat. Setelah pemangkasan, permodalan masih memikul 21 dari 100 poin, lebih besar daripada 15 poin yang dipikulnya sebelum reform v4.

Efek sampingnya disadari dan diukur. Menurunkan bobot CAR otomatis meringankan hukuman bagi bank bermodal tipis, yang skornya naik rata-rata 2,11 poin. Diperiksa ke seluruh populasi 2026 Q2: tidak ada satu pun bank yang predikatnya naik karena itu, sementara 36 bank turun. Yang menahan mereka adalah gerbangnya, bukan bobotnya.

Kolek-2 diberi tambahan bobot, bukan dijadikan gerbang. Perbedaannya disengaja dan sudah ditetapkan di v4.8: kolek-2 menyebut sesuatu yang belum terjadi, sehingga tidak layak mencoret sebuah bank dari daftar, tetapi justru karena itulah kolek-2 layak ikut menimbang. NPL mencatat kerusakan yang sudah jadi; kolek-2 adalah antrean yang memasoknya. Dua BPR yang sama-sama ber-NPL 3% dengan kolek-2 2% dan 15% bukan bank yang sama, dan sebelum v4.9 perbedaan itu dihargai 4 poin dari 100.

Potongan skor yang dicabut: laba yang tumbuh cepat

Pada uji yang sama, pita Growth Laba di atas 50% ternyata tidak berdasar. Diikuti selama setahun pada 1.186 BPR yang berangkat sehat, kelompok itu tidak lebih sering bermasalah daripada kelompok yang labanya tumbuh 10 sampai 25%; pada dua dari tiga ukuran hasil malah sedikit lebih baik. Skornya karena itu dinaikkan dari 60 menjadi 85, sejajar dengan pita di bawahnya. Tanda peringatannya dipertahankan, sebab laba yang melonjak tetap perlu diperiksa sumbernya: kenaikan yang berasal dari pos non-operasional bersifat sekali jalan.

Apa yang sebenarnya dilakukan pertumbuhan kredit

Pertumbuhan kredit sempat dinilai tidak berpengaruh apa-apa terhadap kualitas aset. Kesimpulan itu keliru, dan penyebabnya ada pada cara mengukurnya. Kredit yang tumbuh memperbesar penyebut rasio NPL, sehingga rasio itu bisa diam saja meski kredit macetnya bertambah.

Diuji ulang memakai kredit macet dalam rupiah, bukan rasionya, polanya langsung muncul:

Kuartil pertumbuhan kreditPertumbuhan kredit macet 12 bulanBiaya risiko setahun kemudian
Paling lambat−1,9%2,43%
Q2+6,6%2,06%
Q3+9,6%2,21%
Paling cepat+21,9%1,74%

Risiko vintage itu nyata: bank yang menyalurkan paling agresif melihat kredit macetnya bertambah 22% dalam setahun. Hanya saja kolom terakhir menjelaskan kenapa indikator itu tetap tidak dibobot. Biaya risiko yang ditanggung laba rugi justru lebih rendah pada kelompok yang tumbuh cepat, karena kredit lancarnya bertambah dalam kecepatan yang sama. Pertumbuhan menambah volume masalah tanpa memperburuk kondisi bank, dan skor menilai kondisi.

Karena itu pertumbuhan kredit tetap jadi baris informatif, sementara pembacaan vintage-nya di Diagnosa Silang mendapat dasar empiris yang jelas.

Hubungannya dengan Tingkat Kesehatan resmi

IDEAL bukan TKS dan tidak berpura-pura bisa menggantikannya. Tetapi dua dari empat faktor TKS dapat dihitung persis dengan ambang resminya dari laporan publikasi:

Faktor TKSBobotBisa dihitung dari laporan publikasi?
Profil Risiko25%Tidak sebagai peringkat. Sebagian parameter risiko inheren kredit dan likuiditas berupa rasio dengan ambang tertulis (SEOJK 1/SEOJK.03/2019) dan bisa dihitung; kualitas penerapan manajemen risiko, risiko operasional, dan risiko kepatuhan tidak
Tata Kelola30%Tidak. Sepenuhnya penilaian sendiri, tidak dipublikasikan
Rentabilitas15%Ya, lewat ROA, BOPO, dan NIM
Permodalan30%Ya, lewat KPMM dan MIAPB

Karena itu tiap profil bank menyertakan Lensa TKS: peringkat 1 sampai 5 untuk tiap komponen kuantitatif, peringkat faktor Rentabilitas dan Permodalan, serta nilai komposit parsialnya. Angka ini mencakup 45% bobot TKS, cukup untuk dicocokkan dengan penilaian sendiri yang disusun direksi, tetapi bukan peringkat komposit resmi. Dua catatan perlu menyertainya: SEOJK tidak memberi rumus penggabungan antar-komponen sehingga peringkat faktor di sini adalah rata-rata komponen kuantitatifnya, dan pengawas turut menimbang aspek kualitatif yang tidak terlihat dari luar. SEOJK 11/2022 sendiri menyebut tren dan perbandingan dengan kinerja industri atau peer group sebagai bahan menilai rentabilitas, dua hal yang memang disediakan matriks ini.

Lensa yang sama memuat bagian Profil Risiko: enam parameter risiko inheren dari SEOJK 1/SEOJK.03/2019 yang berupa rasio dengan ambang tertulis dan bisa dihitung dari laporan publikasi.

RisikoParameterAmbang peringkat 1
KreditAset produktif bermasalah / aset produktif≤ 7%
KreditNPL neto≤ 5%
KreditKredit kualitas rendah (selain Lancar) / kredit≤ 7%
LikuiditasAset likuid / kewajiban lancar (Cash Ratio)> 20%
LikuiditasLDR< 90%; di atasnya peringkat 2 sampai 5 menurut NPL neto (≤ 5%, ≤ 6%, ≤ 7%, > 7%)
LikuiditasPendanaan non-inti / total pendanaan< 10%

Untuk lima parameter pertama SEOJK hanya menulis angka di peringkat 1; peringkat 2 sampai 5 ditentukan deskripsi kualitatif. Lensa karena itu hanya menyatakan ambangnya terpenuhi atau terlewati. LDR satu-satunya yang berjenjang penuh. Dua parameter dihitung sebagai batas bawah: kredit kualitas rendah versi resmi ikut memuat kredit restrukturisasi yang berstatus Lancar, dan pendanaan non-inti ikut memuat DPK berbunga di atas tingkat penjaminan LPS, dua angka yang tidak diterbitkan. Parameter lain (konsentrasi 25 debitur dan 25 deposan terbesar, kebutuhan arus kas) tidak bisa dibaca dari luar. Ini bukan peringkat faktor Profil Risiko, yang juga menimbang kualitas penerapan manajemen risiko.

3Cara skor dihitung

Tiap indikator dipetakan ke skor 0–100 lewat rentang tetap (band) yang sama untuk semua bank. Misalnya NPL 0–2% bernilai hampir sempurna, sementara NPL 20% jatuh ke skor sangat rendah. Band ini absolut, dan konsekuensinya dijelaskan tepat di bawah.

Antar-band, skor diinterpolasi mulus (linear), jadi dua bank yang selisih angkanya tipis tidak melompat skor hanya karena kebetulan beda band. Skor tiap indikator dikali bobotnya, lalu dijumlah menjadi satu Skor Komposit IDEAL berskala 0–100, dengan satu catatan teknis: band untuk kondisi ekstrem memuat skor negatif (NPL di atas 50% bernilai −50, misalnya), sehingga komposit bank yang katastrofik bisa menembus di bawah nol. Itu disengaja dan dibiarkan tampil apa adanya.

Apa yang absolut, apa yang relatif

Skor, band, dan warna sel di matriks berskor bersifat absolut. Angkanya menggambarkan kondisi bank itu sendiri, bukan urutan peringkatnya, sehingga sebanding lintas wilayah dan filter, dan lintas periode selama versi metodologinya sama: sebagian band berjangkar pada ambang regulasi (SEOJK) yang tidak bergerak, sebagian dikalibrasi ke distribusi industri dan ditinjau ulang tiap siklus (growth laba, kolek-2, cost of risk); setiap rekalibrasi tercatat di riwayat metodologi di bawah, dan skor lintas versi tidak kami sandingkan seolah sebanding. Sebuah bank akan mendapat skor yang sama persis apakah bank itu dihitung sendirian atau bersama 1.249 bank lain. Yang relatif terhadap kelompok yang sedang difilter hanya dua: urutan peringkat, dan gradasi warna pada sebagian baris di Ruang Periksa.

Di dalam Ruang Periksa sendiri ada empat penggaris warna yang berbeda, dan tiap baris menyandang penanda garis tepi kecil di kolom namanya supaya tidak tertukar. Kuncinya ada di popover tiap baris dan tiap kelompok:

PenggarisDipakai untuk
Skala bakuBand 12 tingkat yang sama persis dengan matriks berskor, untuk rasio yang punya ambang baku sebanding lintas wilayah dan periode: pertumbuhan, AYDA, kredit pihak terkait, ROE, ketebalan CKPN.
Relatif peerGradasi terhadap kelompok pembanding yang sedang difilter, untuk rasio yang tidak punya ambang baku. Berubah bila filternya berubah.
NetralGradasi satu warna, makin tinggi makin pekat, tanpa menyatakan baik atau buruk. Dipakai sembilan baris yang arahnya memang dua sisi: imbal hasil kredit tinggi bisa berarti premi risiko atau debitur rapuh; modal disetor rendah bisa berarti laba ditahan yang tebal. Sebelum versi ini baris-baris itu diwarnai "makin tinggi makin hijau", persis kebalikan dari yang keterangannya sendiri peringatkan.
Ambang resmiWarna terhadap kewajiban yang berlaku untuk bank itu sendiri, bukan terhadap bank lain. Sejauh ini hanya jumlah anggota Direksi dan Dewan Komisaris, yang minimumnya bergantung pada modal inti masing-masing bank.

Baris berskala baku dikecualikan dari gradasi relatif karena indikatornya memang dibaca dua sisi. Pertumbuhan yang menyusut dalam dan yang melonjak terlalu cepat sama-sama patut dicermati, dan gradasi relatif akan meratakannya jadi sekadar "makin besar makin hijau".

Perlakuan data & catatan desain

Sensitivitas satu guncangan: seberapa berat kredit macet memukul skor

Lima dimensi tidak berarti lima pandangan yang saling bebas, dan lebih baik mengakuinya dengan angka. Satu kejadian yang sama, lonjakan kredit macet, menggerakkan tujuh indikator berbobot sekaligus, karena jejaknya memang tercetak di banyak tempat. NPL Gross (8) dan APB Neto/AP (3) mencatat stok masalahnya, MIAPB (12) membaginya ke modal, Cost of Risk (5) mencatat harga pencadangannya di laba rugi, dan beban pencadangan itu ikut membengkakkan BOPO (9) lalu menggerus ROA (9) dan Growth Laba (3). Total 49 dari 100 poin bobot bergerak searah ketika kualitas kredit memburuk dalam. Itu pilihan, bukan kecelakaan desain, dan kini dinyatakan terbuka: kegagalan BPR di Indonesia hampir selalu berawal dari buku kredit, jadi mesin ini memang dibangun berat sebelah ke sana, dan pembaca yang menghitung korelasi antar indikatornya akan menemukan bahwa efektifnya ini model dua faktor besar (aset bermasalah, dan segalanya yang lain) dengan pelengkap likuiditas-pendanaan. Dimensi dan bobot per indikator tetap berguna untuk membaca di mana jejaknya paling dalam, bukan untuk mengklaim tujuh sumber informasi yang saling bebas.

4Dari skor ke predikat

Skor komposit diterjemahkan ke lima tingkat predikat (kode IK, singkatan IDEAL Komposit):

IK-1Sangat Kuat
skor > 85
IK-2Kuat
skor > 70
IK-3Cukup Kuat
skor > 60
IK-4Rapuh
skor > 40
IK-5Sangat Rapuh
skor ≤ 40

Mengapa tidak ada sub-tingkat di dalam IK-4

Dengan median NPL industri di atas ambang gerbang, lebih dari separuh populasi bisa berbagi label IK-4, dan usulan memecahnya (IK-4a/IK-4b) sempat dipertimbangkan serius. Usulan itu ditolak dengan alasan yang layak dicatat: kosakata predikat baru memecah komparabilitas antar versi, harus dirambatkan ke setiap tampilan (matriks, versi gratis, laporan sekali-jadi), dan garis pemisah barunya akan sama arbitrernya dengan garis yang dikeluhkan. Yang dipilih (v5.1): predikat menyebut kelas kondisi, dan pembeda di dalam kelas itu diserahkan kepada skor. Profil tiap bank kini menampilkan posisi di dalam predikatnya ("ke-12 dari 130 bank IK-4 dalam filter ini"), sehingga dua bank Rapuh yang jaraknya jauh tidak lagi terbaca setara.

5Gerbang kehati-hatian

Penjumlahan berbobot punya satu kelemahan: sifatnya kompensatoris. Satu dosa fatal bisa tertutup bobot lain yang kebetulan bagus. Modal tebal dan efisiensi tinggi bisa menutupi NPL 20%, sehingga bank tetap tampak "Sehat". Itu menyesatkan.

Maka predikat diberi gerbang: batas atas yang tak bisa dilampaui bila indikator krusial bermasalah. Gerbang hanya membatasi label predikat; skor dan peringkatnya tetap utuh.

KondisiPredikat maksimal
NPL Gross 7,5%–12%Cukup Kuat (IK-3)
NPL Gross 12% atau lebih dan modal tak lagi menyerap macetnyaRapuh (IK-4)
NPL Gross 12% atau lebih tetapi modal inti masih menyerap macetnya dan operasionalnya masih berlabaditahan di Cukup Kuat (keringanan modal)
NPL Gross tidak terbaca dari laporan (gerbang utamanya tidak bisa diuji)Cukup Kuat (IK-3)
Operasional merugi jelas: BOPO di atas 105% atau ROA di bawah −0,5%Rapuh (IK-4)
Kredit pihak terkait 12% modal inti atau lebih (indikasi BMPK terlampaui)Cukup Kuat (IK-3)
Kredit pihak terkait 25% atau lebih dari kreditCukup Kuat (IK-3)
Kredit pihak terkait 50% atau lebih dari kreditRapuh (IK-4)
Kredit pihak terkait 75% atau lebih dari kreditSangat Rapuh (IK-5)
AYDA 12% atau lebih dari asetCukup Kuat (IK-3)
LDR di bawah 30% (kredit nyaris tidak disalurkan; rasio lain yang tampak sempurna lahir dari buku kredit yang kosong)Cukup Kuat (IK-3)
Modal inti di bawah Rp6 miliarRapuh (IK-4)
Modal inti nol atau negatifSangat Rapuh (IK-5)
CAR 8%–12% (di bawah minimum KPMM 12%)Rapuh (IK-4)
CAR di bawah 8% (jauh di bawah minimum; 8% adalah batas peringkat 5 skala pengawas)Sangat Rapuh (IK-5)
Cash Ratio di bawah 5% (pemicu status Bank Dalam Penyehatan bila bertahan sebagai rata-rata tiga bulan, POJK 28/2023; setara dengan KPMM di bawah 12%)Rapuh (IK-4)
CAR tidak terbaca dari laporan (gerbang utamanya tidak bisa diuji)Cukup Kuat (IK-3)

NPL setinggi apa pun tidak otomatis memaksa "Sangat Rapuh", selama modal masih melindungi deposan. Sebaliknya, "Sangat Rapuh" dikhususkan untuk krisis solvabilitas (CAR jauh di bawah minimum regulasi). Keringanan modal memakai ukuran yang lebih tepat daripada CAR mentah: apakah kredit macet yang belum tercadang, bila dihapus, akan menggerus modal inti atau tidak. Ambangnya kuantitatif: kredit macet yang belum tercadang (outstanding NPL − CKPN) harus menggerus kurang dari 50% modal inti, dan bank harus masih berlaba (BOPO di bawah 100% serta ROA positif). Dipakai daya-serap modal, bukan CAR mentah, karena CAR di populasi BPR nilainya seragam tinggi sehingga tidak membedakan.

Kenapa keringanan tidak lagi dibatasi pita 12–18%. Ambang NPL 12% berdiri di bawah median industri (NPL median 1.249 BPR adalah 14,2%), sehingga gerbangnya menyala pada lebih dari separuh populasi. Akibatnya predikat Rapuh berhenti membedakan: dari 121 bank berskor 75 ke atas yang berlabel Rapuh, 95 dijatuhkan gerbang NPL sendirian, dan bank yang bukunya bermasalah tetapi modalnya kuat serta masih berlaba tercetak sama dengan bank yang sedang kehabisan darah. Yang menentukan sekarang daya serap modalnya, bukan letak NPL-nya di garis. Diuji ke seluruh populasi: keempat BPR Jawa Tengah yang izinnya dicabut pada 2024 tetap tertandai Rapuh/Sangat Rapuh sebelum ditutup, bank merugi yang lolos label buruk turun dari 36 menjadi 10, dan predikat yang bertentangan dengan skornya turun dari 4,21% menjadi 3,64% pasangan.

Kerugian operasional berdiri sebagai gerbangnya sendiri, tidak menumpang pada NPL. Ada BPR ber-NPL 0,0% yang tetap merugi, dan selama kerugian hanya terbaca lewat NPL bank seperti itu lolos hanya karena buku kreditnya bersih. Ambangnya diberi margin, BOPO di atas 105% dan bukan 100%, karena memisah tepat di titik impas berarti 99,9% aman sementara 100,3% jatuh satu tingkat penuh, beda yang tidak berarti apa-apa pada laporan triwulanan yang belum diaudit.

Ambang NPL 7,5% mengacu batas eliminasi yang lazim dipakai industri, antara lain kriteria rating Infobank. Bedanya, IDEAL memakainya untuk membatasi bertingkat, bukan mendiskualifikasi. Bank tetap dinilai dan diperingkatkan; yang dibatasi hanya label predikatnya.

Gerbang kredit pihak terkait dan AYDA memakai ambang yang sama persis dengan penyaring "BPR IDEAL Terbaik" di bagian 7, sehingga satu angka berlaku konsisten untuk keduanya.

Kredit pihak terkait: penyebut yang benar, dan tingkat teratas

Gerbang lama mengukur kredit pihak terkait terhadap total kredit. Batas BMPK mengukurnya terhadap modal, dan angkanya 10%. Dengan penyebut yang benar, jumlah bank yang melampaui ambang melonjak dari 24 menjadi 287 dari 1.249.

Satu catatan yang perlu disampaikan terus terang: BMPK memakai Modal, yaitu modal inti ditambah modal pelengkap, sedangkan dari laporan publikasi hanya modal inti yang bisa direkonstruksi. Penyebut yang lebih kecil membuat ukuran ini sedikit lebih ketat daripada BMPK sesungguhnya, dan itulah sebabnya ambang yang dipakai 12%, bukan 10%. Di dekat garis, selisih penyebut lebih besar daripada jarak ke garisnya: sebuah BPR tercatat 10,34% modal inti padahal kredit pihak terkaitnya cuma 3,92% dari total kredit, dengan NPL 0,77% dan CAR 75,6%; tanpa modal pelengkap sepeser pun bank itu tetap patuh. Di atas 12% penyebut tidak lagi menentukan, dan 239 bank tetap tersangkut di sana. Diuji dengan ekuitas sebagai penyebut pembanding, hasilnya 273 bank versus 287, dan hanya 18 bank yang kesimpulannya berbeda; pilihan penyebut tidak menggoyang temuannya.

Tingkat teratas ada karena satu hal yang tidak bisa dijawab rasio mana pun. Pada 75% ke atas, entitas itu berhenti menjalankan fungsi intermediasi dan berubah jadi penyalur dana masyarakat kepada pemiliknya sendiri. Contohnya nyata pada data 2026 Q2: sebuah BPR dengan 97,7% kredit ke pihak terkait mencetak NPL 0,0%, CAR 140,8%, dan skor 91,7 yang sebelumnya menempatkannya di peringkat tiga dari 148 bank se-KR1. Semua angka bagusnya adalah akibat dari penyakit yang sama: pemilik tidak menunggak kepada dirinya sendiri di atas kertas.

Modal inti minimum Rp6 miliar

Setiap BPR wajib bermodal inti sedikitnya Rp6 miliar sejak 31 Desember 2024. Ini kewajiban absolut, bukan rasio, dan gerbang CAR tidak menangkapnya: dari 126 BPR yang berada di bawah ambang itu, 97 justru ber-CAR di atas 12% karena aset tertimbang menurut risikonya kecil. Rasionya sehat, tetapi syarat untuk tetap beroperasi mandiri tidak terpenuhi.

Ada lima bank yang modal inti hasil rekonstruksinya negatif sementara KPMM terbitan OJK menunjukkan angka sehat. Salah satu dari kedua angka itu tidak bisa dipercaya, dan tidak ada cara memastikan yang mana dari laporan publikasi saja. Gerbang modal inti sengaja tidak dikenakan pada bank dalam keadaan ini. Menjatuhkan predikat berdasarkan aritmetika yang meragukan lebih buruk daripada menyatakan keraguannya terang-terangan, jadi kasusnya ditangani sebagai Sinyal Kewaspadaan.

Mengapa lebih dari separuh populasi tersangkut

Pada data 2026 Q2 gerbang-gerbang ini membatasi predikat sebagian besar populasi, dan 569 dari 1.249 BPR berakhir di IK-4 atau IK-5. Angka itu mengejutkan sampai sebarannya dilihat: median NPL Gross industri BPR berada di 14,2%, kuartil atasnya mulai 25,9%, dan 55,6% bank ber-NPL di atas 12%. Gerbangnya tidak dikalibrasi terlalu keras; keadaan industrinya memang demikian. Karena itu peringkat dalam kelompok pembanding yang sebanding tetap dibutuhkan, dan tidak cukup membaca predikatnya saja.

6Diagnosa Silang

Di luar skor, IDEAL membaca pasangan indikator, hal yang biasa dilakukan analis tetapi tak terlihat bila angka dibaca satu-satu. Contoh: ROA tampak sehat padahal sebagian besar labanya dari pos non-operasional (tak berulang); atau NPL rendah padahal aset sitaan (AYDA) menumpuk, tanda tekanan kredit yang berpindah wujud. Setiap profil bank di matriks (klik logo di header kolom) menyertakan diagnosa otomatis dari kombinasi seperti ini.

Pasangan yang dibaca dalam satu periode

Pembacaan lintas periode

Dari deret lima triwulan, diagnosa membaca tiga hal yang mustahil terlihat dari satu potret:

Prinsip kerjanya

7Penyaring "BPR IDEAL Terbaik"

Untuk masuk daftar BPR IDEAL Terbaik, IDEAL tidak sekadar mengurutkan skor. Sebuah bank harus lebih dulu melewati serangkaian gerbang penyaring yang keras. Yang tak lolos dicoret dari daftar, berapa pun tinggi skornya. Gerbang menjawab dua pertanyaan yang berbeda, dan sebuah bank harus lulus keduanya.

Cara membaca ambangnya

Seluruh ambang gerbang di bawah bersifat inklusif: bank yang angkanya tepat berada di ambang dinyatakan gugur, bukan lolos. NPL tepat 7,50% dicoret, AYDA tepat 12% dicoret, BOPO tepat 100% dicoret.

Alasannya ketelitian datanya sendiri, bukan kesukaan pada angka bulat. OJK menerbitkan rasio dibulatkan sampai dua desimal, sehingga "7,50%" sebenarnya berarti di suatu tempat antara 7,495% dan 7,505%. Di titik itu tidak ada cara memastikan sebuah bank berada di sisi mana. Untuk sebuah daftar unggulan, ketidakpastian seperti itu ditanggung oleh pihak yang membuat klaimnya, bukan oleh pembaca yang memakainya.

Konvensi ini juga yang menjaga daftar Terbaik tetap sejalan dengan predikat. Gerbang predikat (bagian 5) memakai ambang yang sama dan sudah inklusif sejak awal; kalau gerbang di sini memakai konvensi berbeda, sebuah bank bisa muncul di daftar Terbaik sambil membawa lencana predikat yang menyatakan indikatornya perlu perhatian.

Lapis pertama: apakah bank berisiko gagal?

Lima gerbang prudensial, dikalibrasi dan diuji terhadap bank-bank yang benar-benar dicabut izinnya. Di sinilah keunggulan data lima-triwulan paling terasa.

1

NPL Gross 7,5% ke atas

Kredit bermasalah yang sudah mencapai batas kewajaran industri. Bank dengan NPL 5% sampai di bawah 7,5% masih ditoleransi dengan skor proporsional; begitu menyentuh 7,5% bank dicoret.

2

CAR di bawah 8%

Minimum KPMM BPR menurut POJK 7/2026 (pengganti POJK 5/2015 sejak 30 Juni 2026) adalah 12%; angka 8% bukan minimumnya, melainkan batas peringkat 5 pada skala penilaian pengawas (SEOJK). Jadi CAR di bawah 8% berarti modal sudah jauh di bawah minimum regulasi. Ini garis merah solvabilitas, tanpa toleransi.

3

CAR pernah di bawah 8% dalam enam triwulan terakhir

Meski CAR-nya sehat hari ini, jika modal pernah jebol dalam enam triwulan yang tersaji di deret tren (sekitar 15 bulan), bank dicoret.

Mengapa: pada kasus BPR yang dicabut izinnya, modal (CAR) retak lebih dulu, kadang sampai negatif ekstrem, sementara NPL "di atas kertas" baru meledak di triwulan terakhir. Membaca satu potret bisa terlambat; membaca riwayat menangkapnya lebih dini.

4

Modal tak sanggup menyerap kredit macet

Bila seluruh kredit macet yang belum dicadangkan dihapus dan modal inti tergerus habis (100% atau lebih), bank dicoret walau CAR-nya tampak besar.

Mengapa: CAR mentah mudah menyesatkan karena di populasi BPR nilainya seragam tinggi. Ukuran yang benar adalah apakah modal sungguh sanggup menyerap kerugian kreditnya, bukan sekadar angka CAR yang besar.

5

AYDA (aset diambil alih) ≥ 12% dari aset

Agunan yang diambil alih menumpuk terlalu besar. Itu pertanda kredit macet yang berpindah wujud jadi aset sitaan.

Mengapa: NPL bisa tampak rendah justru karena kredit bermasalah sudah berpindah wujud jadi AYDA. Membaca AYDA menutup titik buta ini.

Lapis kedua: apakah bank benar-benar dikelola baik?

Tidak berisiko gagal belum berarti terbaik. Sebuah bank bisa jauh dari kolaps, dengan modal tebal dan NPL rendah, namun tetap dikelola buruk: merugi, funding rapuh, modal yang sedang tergerus, atau menyalurkan kredit ke afiliasinya sendiri. Delapan gerbang berikut menyaring mutu pengelolaan itu.

6

BOPO ≥ 100%: rugi operasional

Beban operasional melebihi pendapatan operasional. Bank "terbaik" tidak boleh kehilangan uang dari kegiatan intinya.

7

ROA ≤ 0: merugi

Aset yang dikelola tidak menghasilkan laba. Rugi bersih langsung mendiskualifikasi dari daftar terbaik.

8

Funding rapuh: LDR ≥ 150% dengan pinjaman antarbank ≥ 40%, atau LDR ≥ 175% berdiri sendiri

Bank yang menyalurkan kredit jauh di atas dana pihak ketiganya, ditopang utang antarbank, rentan seketika bila fasilitas itu ditarik. Cabang kedua (sejak v5.1): LDR 175% ke atas dicoret apa pun sumber penambalnya; syarat ganda yang lama meloloskan LDR 200% selama pinjaman antarbanknya di bawah 40%, keketatan yang tidak sebanding dengan gerbang lain yang mencoret BOPO 100,1% seketika.

Mengapa: berbeda dari kredit macet yang menggerus perlahan, penarikan dana antarbank bisa terjadi cepat, sehingga likuiditas yang tampak cukup hari ini tak menjamin arus besok.

9

Kredit pihak terkait ≥ 25% dari kredit

Seperempat atau lebih portofolio kredit disalurkan ke pihak terkait, entah pemilik atau afiliasinya. Konsentrasi seperti ini pola klasik kegagalan BPR.

10

Kredit pihak terkait 12% modal inti atau lebih

Ukuran yang sama dibaca dengan penyebut yang dipakai pengawas. Batas BMPK untuk pihak terkait adalah 10% dari modal, bukan dari kredit; dengan penyebut itu jumlah bank yang melampaui ambang melonjak dari 24 menjadi 287.

Mengapa 12% dan bukan 10%: BMPK memakai Modal, yaitu modal inti ditambah modal pelengkap, sedangkan dari laporan publikasi hanya modal inti yang bisa direkonstruksi. Penyebut yang lebih kecil membuat rasio yang kami hitung selalu lebih besar daripada rasio sesungguhnya, dan di dekat garis selisih itu lebih besar daripada jarak ke garisnya. Perinciannya di bagian 5.

11

Modal inti di bawah Rp6 miliar

Batas minimum modal inti BPR, wajib sejak 31 Desember 2024. Ini kewajiban absolut, bukan rasio: bank yang tidak memenuhinya tidak memenuhi syarat untuk tetap beroperasi, berapa pun rasio-rasio lainnya.

Mengapa gerbang CAR tidak menangkapnya: CAR sebuah rasio, dan 97 dari 126 bank yang melanggar batas ini ternyata ber-CAR di atas 12% karena ATMR mereka kecil. Rasionya sehat, syaratnya tidak.

12

Kurang cadang: Kecukupan CKPN di bawah minimum

Bank belum membentuk cadangan kerugian sebanyak yang diwajibkan regulasi, padahal punya kredit macet yang nyata (Kecukupan CKPN < 80% saat NPL ≥ 3%), atau nyaris tak mencadangkan sama sekali (< 25%).

Mengapa: pencadangan yang kurang membuat laba tampak lebih besar dari seharusnya, karena beban yang mestinya diakui jadi tertunda. Labanya perlu dibaca dengan hati-hati.

13

Modal inti menyusut ≥ 20% dalam setahun

Gerbang CAR menguji level modal; yang ini mengujinya arah. Bank yang kehilangan seperlima modal intinya dalam setahun bisa tetap ber-CAR tebal. Hanya saja "Terbaik" bukan label untuk modal yang sedang lenyap. Ambangnya batas band "Penurunan berat"; pada data 2026 Q2 gerbang ini hanya memangkas dua bank (−36% dan −22%), jadi sifatnya gerbang tepi, bukan penyaring massal. Dilewati bila pertumbuhannya dihitung atas basis modal negatif, karena rekonstruksinya terlalu bising di kasus itu.

Mengapa: erosi modal adalah pendarahan yang mendahului pelanggaran CAR, dan menunggu levelnya jebol berarti menunggu terlambat.

14

LDR di bawah 30%

Bank yang nyaris tidak menyalurkan kredit. Pada bank seperti ini NPL 0%, ROA, dan CAR yang tampak sempurna lahir dari buku kredit yang kosong, bukan dari kinerja, dan di matriks predikatnya pun ditahan di Cukup Kuat oleh gerbang yang sama.

Mengapa: sebelum v5.3 pita LDR hanya menghukum LDR nyaris nol 7,7 poin, sementara indikator lain yang "sempurna" menutupinya, sehingga bank ber-LDR 2% bisa mencetak IK-2 dan lolos ke daftar. Ambang 30% jauh di bawah desil terbawah industri, jadi hanya menangkap bank yang bukunya memang nyaris kosong.

Hasilnya

Pada data 2026 Q3, dari 1.213 BPR se-Indonesia, sebanyak 179 BPR (14,8%) lolos seluruh gerbang. Mereka lalu dikelompokkan per kelas aset supaya adil, sebab bank Rp1 triliun tidak layak diadu dengan bank Rp30 miliar, dan diurutkan berdasarkan skor IDEAL. Jumlahnya dibatasi mutu, bukan dipatok angka bulat seperti "100 terbaik". Di matriks tiap wilayah, BPR yang lolos ditandai bintang; yang tidak lolos dapat menampilkan gerbang mana yang menahannya.

Lolos gerbang bukan berarti tanpa catatan

Di daftar Terbaik, sebagian bank tetap membawa tanda ⚑. Pada data 2026 Q3 ada 21 dari 179 bank seperti itu, atau 11,7%. Tanda itu bukan salah cetak, dan bukan berarti gerbangnya bocor: keempat belas gerbang tetap dilewati bank-bank tersebut.

Gerbang dan Sinyal Kewaspadaan memang mengukur hal yang berbeda. Gerbang bertanya "apakah bank ini berisiko gagal atau jelas dikelola buruk" lewat ambang mutlak pada satu potret. Sinyal Kewaspadaan bertanya "apakah ada yang sedang bergerak ke arah yang salah": biaya dana yang melampaui tingkat penjaminan LPS, beban pencadangan yang membengkak, bunga tertunggak yang menahun, hapus buku yang besar. Tak satu pun dari itu diuji gerbang, dan memang tidak seharusnya: menjadikannya gerbang berarti mencoret bank yang belum tentu bermasalah.

Pembanding: Rating 421 BPR Infobank

Infobank memakai satu gerbang eliminasi (NPL di atas 7,5% atau CAR di bawah 8%) dan tiga aturan lain (LDR > 100% dengan CAR < 14%, BOPO > 92%, ambang skor 81) yang hanya menurunkan predikat, tidak mencoret. Ketika gerbang eliminasi itu diterapkan ke data yang sama untuk Desember 2025, tersisa 416 BPR, sangat dekat dengan 421 yang mereka terbitkan. Dari 416 itu, 60 bank atau 14,4% memicu Sinyal Kewaspadaan IDEAL, proporsi yang lebih tinggi daripada 9,6% di daftar Terbaik IDEAL sendiri.

Angka ini hasil menerapkan gerbang eliminasi mereka, bukan menyalin daftarnya; skoring Infobank tidak ikut direplikasi. Yang ingin ditunjukkan bukan siapa lebih ketat, melainkan bahwa daftar unggulan yang memuat bank bercatatan adalah hal yang lazim di industri ini.

Karena itu bank ber-⚑ tidak dicoret dari daftar Terbaik. Mencoretnya malah membuang informasinya: pembaca tidak akan pernah tahu apa yang sedang terjadi pada bank itu, sebab namanya hilang tanpa penjelasan. Yang IDEAL lakukan sebaliknya: bank itu tetap ditampilkan, tandanya dipasang terang, angka pemicunya bisa dibuka dengan sekali klik, dan urutannya ditaruh setelah semua bank yang bersih di kelas aset yang sama. Pembaca yang menyusuri daftar dari atas menemukan yang tanpa catatan lebih dulu, tanpa ada yang disembunyikan darinya.

8Teruji ke belakang

Formula ini diuji ke BPR yang benar-benar dicabut izinnya, memakai mesin skor yang sama dengan yang dipakai situs. Ada dua kelompok uji, dan yang kedua sepenuhnya di luar sampel yang dipakai menyusun formulanya.

Empat BPR Jawa Tengah, dicabut 2024

Dananta, Bank Purworejo, Bank Jepara Artha, dan Usaha Madani Karya Mulia.

Empat belas BPR nasional, dicabut 2025–2026

Kelompok kedua ini tidak dipakai sama sekali saat menyusun formula, jadi hasilnya berlaku sebagai uji luar sampel: Artha Kramat, Nagajayaraya Sentosa, Bumi Pendawa Raharja, Suliki Gunung Mas, Prima Master, Bank Cirebon, Kamadana, Koperindo Jaya, Pembangunan Nagari, Sungai Rumbai, Ceper Permata Artha, Dwicahaya Nusaperkasa, Mataram Mitra Manunggal, dan Citra Bersada Abadi. Daftar ini bertambah setiap kali OJK mencabut izin sebuah BPR yang ada di panel data kami, dan diuji ulang dengan mesin skor versi terbaru.

Keempat belasnya berperingkat IK-4 atau IK-5 di setiap triwulan yang mereka laporkan, sejak titik data paling awal yang tersedia (2024 Q4), antara 10 dan 20 bulan sebelum pencabutan izin.

Sisi yang jarang dilaporkan: ketepatan

"Empat belas dari empat belas tertangkap" adalah angka recall: dari bank yang jatuh, berapa yang sudah ditandai. Itu setengah cerita, dan setengah yang mudah dibanggakan. Model yang menandai semua bank akan mencetak 100% dan terdengar sempurna. Sisi lainnya adalah ketepatan: dari sekian banyak bank yang ditandai, berapa yang benar-benar jatuh.

PosisiYang kelak jatuh dan sudah ditandaiTotal ditandai IK-4/IK-5Ketepatan
2024 Q414 dari 14551 dari 1.3522,5%
2025 Q214 dari 14622 dari 1.3362,3%
2025 Q49 dari 9541 dari 1.3081,7%

Ketepatan 2,3% terdengar buruk sampai diingat apa yang sedang diramalkan. Pencabutan izin adalah peristiwa yang sangat jarang: sekitar sembilan bank setahun dari lebih seribu. Predikat IK-4 tidak berarti "akan dicabut izinnya", melainkan "kondisinya buruk". Sebagian besar bank berkondisi buruk tidak jatuh. Mereka diselamatkan, dimerger, atau bertahan bertahun-tahun dalam keadaan lemah.

Yang layak diklaim karena itu bukan "meramalkan kegagalan", melainkan: tidak ada satu pun BPR yang dicabut izinnya luput dari peringatan, dan tiga belas di antaranya berada di tingkat terendah (IK-5) setahun sebelum pencabutan; satu bertahan di IK-4. Sebagai penyaring untuk mempersempit perhatian, itu berguna. Sebagai ramalan, tidak, dan halaman ini tidak akan mengaku begitu.

Satu catatan tentang apa yang tidak dibuktikan uji ini. Pada 2024 Q4, titik terawal yang kami punya untuk mereka, keempat belas bank itu sudah berada dalam kondisi sangat buruk dengan NPL 19% sampai 98%, dan lima di antaranya sudah ber-CAR negatif. Jadi uji ini membuktikan mesinnya tidak melewatkan bencana yang sudah terjadi, bukan membuktikan mesinnya memberi peringatan dini. Kemampuan mendeteksi lebih awal terlihat pada kelompok pertama, yang datanya menjangkau tahap ketika bank-bank itu belum kolaps.

Backtest dihitung ulang setiap kali formula berubah. Laporan publikasi 2022–2023 keempat bank kelompok pertama disimpan permanen agar hasilnya tetap dapat diverifikasi meski arsipnya dicabut dari sistem OJK.

9Riwayat metodologi

Formula ini hidup: bobot dan gerbangnya berubah ketika data membuktikan versi sebelumnya keliru. Perubahan itu tidak boleh diam-diam: bank yang peringkatnya bergeser berhak tahu apakah kinerjanya yang berubah atau penggarisnya. Setiap versi tercatat di sini; skor lintas-versi tidak sebanding dan kami tidak menyandingkannya seolah sebanding.

VersiKapanYang berubah, dan kenapa
v38 Jul 2026Gerbang kehati-hatian diperkenalkan sebagai cap predikat (bukan diskualifikasi); metrik pertumbuhan dicabut dari bobot karena tidak terbukti memperburuk kondisi; daftar "BPR IDEAL Terbaik" ber-10 gerbang menggantikan "Top 100" yang dipatok angka bulat.
v415 Ags 2026Bobot disandingkan baris per baris dengan kerangka TKS (POJK 3/2022, SEOJK 11/2022): Permodalan naik menjadi bobot terbesar, rumpun efisiensi-laba yang berhimpit mekanis diturunkan; MIAPB dan Cash Ratio masuk berbobot; modal inti direkonstruksi dari neraca; ROE dan growth dipindah ke display-only; Lensa TKS ditambahkan ke profil bank.
v4.516 Ags 2026Kolektibilitas-2/Aset Produktif masuk berbobot, mengambil 4 poin dari NPL Gross setelah diuji forward ke 1.219 BPR; gerbang baru: kredit pihak terkait terhadap modal inti (indikasi BMPK) dan modal inti minimum Rp6 miliar; kosakata predikat diganti (Kuat/Rapuh) agar tidak meminjam istilah bermakna hukum milik TKS; urutan matriks menjadi predikat dulu, baru skor.
v4.619 Ags 2026Konsistensi tampilan: peringkat versi gratis disamakan persis dengan versi langganan (predikat-dulu) dan predikat kini tampil di keduanya; warna sel CAR/MIAPB berhenti menghijau di titik skornya berhenti bertambah (CAR 15%, MIAPB 300%); jendela tren baku 5 triwulan dengan opsi deret penuh; peringkat per kelas aset ditampilkan di samping peringkat wilayah.
v4.720 Ags 2026Ambang gerbang dinyatakan inklusif dan diseragamkan: NPL Gross yang tepat 7,5% kini ikut dicoret, sebelumnya satu-satunya ambang yang memakai pembanding eksklusif sementara sembilan lainnya inklusif. Akibat lamanya nyata: sebuah BPR ber-NPL tepat 7,50% tampil di daftar Terbaik padahal predikatnya dibatasi gerbang dengan ambang yang sama. Daftar Terbaik sengaja TIDAK diberi lantai predikat: keanggotaannya tetap ditentukan gerbang, bukan skor komposit, sebab memakai skor sebagai penyaring berarti mengembalikan logika kompensatoris yang memang dihindari gerbang. Bank yang memicu Sinyal Kewaspadaan tetap ditampilkan, ditandai, dan diurutkan setelah yang bersih.
v4.820 Ags 2026Dua gerbang dilunakkan sesudah daftar ini diuji ulang dengan sudut pandang penguji luar. BMPK pihak terkait: ambangnya digeser dari 10% ke 12% modal inti. Penyebut yang tersedia dari laporan publikasi hanya modal inti, tanpa modal pelengkap, sehingga rasio yang kami hitung selalu lebih besar daripada rasio BMPK sesungguhnya, dan di dekat garis selisih penyebut itu lebih besar daripada jarak ke garisnya. Kolektibilitas-2: dicabut sebagai gerbang, diturunkan menjadi Sinyal Kewaspadaan dengan ambang yang sama persis, karena gerbang itu satu-satunya yang mencoret atas sesuatu yang belum terjadi sementara sebelas lainnya menyebut keadaan yang sudah ada. Sekaligus diperbaiki: tiga gerbang yang selama ini bekerja tanpa pernah didaftarkan di halaman ini (BMPK, modal inti minimum Rp6 miliar, dan kolek-2) kini tercantum, sehingga daftarnya menjadi dua belas.
v4.921 Ags 2026Bobot disetel ulang setelah seluruh indikator diukur dengan penggaris yang selama ini hanya dipakai untuk menyaring indikator baru: apakah nilainya bergradasi. CAR turun dari 14% ke 9% karena 93,2% BPR berada di atas 15% dan karenanya berskor penuh yang sama persis, sehingga bobotnya terbayar sebagai konstanta; permodalan tetap dijaga MIAPB (12%, tak disentuh) dan gerbang CAR di bawah 8%. Lima poin itu pindah ke Kolektibilitas-2 (4% ke 7%) dan Cost of Risk (3% ke 5%), dua indikator yang terbukti memisahkan bank yang setahun kemudian bermasalah. Diuji ke panel 1.186 BPR yang berangkat sehat lewat tiga kohor satu tahun. Ikut dicabut: potongan skor untuk laba yang tumbuh di atas 50%, yang ternyata tidak berkorelasi dengan kesulitan apa pun (60 menjadi 85). Bobot dimensi berubah: I 20% ke 23%, E 15% ke 17%, A 30% ke 25%. Akibat kedua perubahan itu digabung, 33 BPR turun predikat dan tidak ada satu pun yang naik; yang berpredikat IK-1 berkurang dari 141 menjadi 128.
v5.023 Ags 2026Info Tambahan dirombak menjadi tujuh kelompok dan 32 baris, tiap kelompok menjawab satu pertanyaan. Empat skala warna dipisahkan terang-terangan: pita baku, relatif peer, netral untuk angka yang artinya dua sisi, dan ambang POJK untuk jumlah pengurus. BOPO dipecah tiga (beban bunga, beban risiko, overhead), komposisi kredit bermasalah dibaca dari kolom kolektibilitas, dan Laporan Informasi Lainnya mulai dibaca: susunan Direksi dan Dewan Komisaris serta porsi pemegang saham. Skor dan bobot tidak berubah.
v5.12 Sep 2026Hasil audit menyeluruh atas rumus dan cara angka diceritakan. Rumus growth diperbaiki untuk basis negatif: bank yang berbalik dari rugi ke laba dulu terhitung "turun" dan bank yang ruginya berlipat terhitung "tumbuh"; kini selisih dibagi besaran basis, arahnya benar, dan narasinya diberi penanda "dihitung terhadap basis rugi". Band NIM berbentuk puncak: di atas 15% skor meluruh, karena NIM 25–35% adalah profil bunga kredit sangat mahal, bukan keunggulan. MIAPB tak terhingga dinilai 100 (lihat catatan desain di bagian 3). Ikon NPL 8–10% menjadi ⚠︎ agar sel tidak menghijau di pita yang gerbangnya sendiri menyala. Kolom "Kekuatan" di profil bank disaring ambang absolut: peringkat peer yang bagus tidak lagi cukup untuk menyebut NPL 7,45% sebuah kekuatan, dan bank IK-5 mendapat kalimat kondisi di atas kolom itu. Gerbang baru: bank yang NPL dan CAR-nya sama-sama tak terbaca dibatasi IK-3 (dua gerbang utamanya tidak bisa diuji); sejak v5.2 gerbang ini dipecah dua: NPL tak terbaca dan CAR tak terbaca masing-masing sudah cukup membatasi IK-3, tanpa menunggu keduanya. Gerbang funding Terbaik ditambah cabang LDR ≥ 175% berdiri sendiri. Redistribusi bobot data-kosong dibatasi 2× per indikator dengan sisa dinormalisasi lintas dimensi. Estimasi hapus buku kini memakai saldo pembuka Desember yang benar untuk triwulan interim, penanda ekspansi panas (aset +50%) tampil di kepala kolom, dan sejumlah klaim di halaman ini dikoreksi arah atau diberi kualifikasi (bias MIAPB, komparabilitas lintas periode, skala skor, batas data). Menyusul di rilis yang sama: rasio flow/stock pindah ke penyebut rata-rata (ROE, Biaya Dana, Cost of Risk, Produktivitas Aset; kebiasaan yang sama dengan ROA/LDR terbitan OJK; median Cost of Risk tidak bergeser); Biaya Bunga/DPK menjadi Biaya Dana dengan penyebut seluruh dana berbunga (DPK + simpanan bank lain + pinjaman diterima) supaya sepadan dengan pembilangnya; median turun 5,6% → 5,1% karena bias antarbank hilang; gerbang Terbaik ke-13: modal inti menyusut ≥ 20% setahun; dan profil bank menampilkan posisi di dalam predikat sebagai pembeda di antara bank-bank berlabel sama.
v5.22 Sep 2026Putaran kedua audit di hari yang sama, kali ini dari sudut pandang ekonom dan regulasi. Netting MIAPB diperketat: penyebutnya kini APB dikurangi taksiran cadangan atas aset bermasalah saja (total CKPN dikurangi taksiran cadangan umum 0,5% dari aset produktif lancar), sehingga cadangan kehati-hatian atas aset sehat tidak lagi ikut "menghapus" aset bermasalah. Dampaknya 63 bank turun satu peringkat MIAPB penuh dan kasus tak-terhingga menyusut dari 34 ke 16; predikat hanya bergeser di 1 bank karena skor komposit tertahan interpolasi, jadi yang diluruskan terutama labelnya. Dasar regulasi CAR diluruskan: minimum KPMM BPR adalah 12% (POJK 5/2015), bukan 8%; teks gerbang, panel bantalan, dan halaman ini dikoreksi, termasuk bantalan CAR yang kini dihitung terhadap 12%. Pertumbuhan atas basis nyaris nol dinyatakan tak bermakna: basis di bawah 0,1% total aset membuat rumusnya meledak sampai jutaan persen tanpa informasi apa pun; selnya kini "n/b" (53 bank pada Growth Laba) dan sisanya di-clamp tampil ±999%. Estimasi hapus buku disatukan cakupannya (saldo pembuka-penutup memakai total CKPN, sama dengan bebannya di laba rugi) dan hasil negatif, yang mustahil, dinyatakan tak terhitung, bukan ditampilkan (38 bank). Kekurangan PPKA pada rasio pencadangan 0% dinyatakan tak terhitung dan diberi catatan di popover CAR (10 bank), bukan diam-diam nol. Biaya Dana memuat seluruh beban bunga (kontraktual + biaya transaksi), cakupan yang sama dengan Anatomi BOPO. ROE digembok di sumber saat ekuitas negatif (13 bank; deret trennya ikut bersih). NPL Neto yang tercatat di atas NPL Gross, yang mustahil secara definisi, ditandai sinyal "Angka NPL Bank Tidak Konsisten" (16 bank). Penyajian ikut disisir: peringkat peer indikator dua-sisi dihitung dari skor pita, bukan besar-kecil angka mentah (457 sel sempat memuji LDR/NIM/Cash Ratio di zona bahaya sebagai "#1 sekelas"), panah tren mini mengikuti aturan yang sama; batas band "≥" dibuat inklusif mengikuti definisi SEOJK sehingga nilai pas di ambang berhak atas label peringkat atasnya; ikon pita NPL 7,5–8%, Cash Ratio >100%, dan LDR ≥135% diselaraskan dengan skor dan gerbangnya; garis tren dengan triwulan bolong tidak lagi digambar mulus (celahnya putus-putus); kolom buram versi intip memakai satu warna per bank dari skor komposit, tanpa variasi per-baris yang bisa terbaca sebagai data; skor memakai koma desimal di semua tampilan; dan urutan daftar Terbaik versi gratis disamakan dengan versi berbayar (kunci sinyal ⚑ ikut dipakai; sebelumnya 101 dari 187 bank berbeda nomor). Gerbang "NPL dan CAR sama-sama tak terbaca" dipecah dua sehingga salah satunya kosong pun sudah membatasi IK-3. Metrik backtest dihitung ulang dengan seluruh rumus baru: hasilnya tetap 4/4, dan uji daya pisah membaik di keempat kohor. Satu catatan arsip: pertumbuhan laba sepanjang 2025 membandingkan laba era-CKPN dengan basis era-PPAP (POJK 23/2024 berlaku posisi Desember 2024), jadi struktur beban pencadangannya tidak sepenuhnya sebanding; sejak periode 2026 perbandingannya kembali satu rezim.
v5.312 Sep 2026Hasil audit ujung ke ujung: tampilan, mesin skor, backend, dan naskah. Warna dan ikon sel diturunkan dari skor: nomor rung tiap pita di tabel tampilan kini dihitung ulang dari SCORE_TABLES, bukan ditulis tangan; sebelumnya 133 sel NPL 7,5–10% tampil hijau padahal gerbangnya menyala, dan Cost of Risk, ROA, APB Neto, Kecukupan CKPN, MIAPB, serta BOPO bercerai serupa (lebih dari 1.900 sel; sisa yang berlawanan kini 56, di tepi pita). Gerbang modal inti tetap menyala bila Total Ekuitas terbitan OJK negatif, meski rekonstruksi modal inti dan CAR saling bertentangan: sebuah bank ber-ekuitas −Rp107 M yang sempat tercetak IK-3 kini IK-5, begitu pula satu bank yang izinnya sudah dicabut. Gerbang baru LDR di bawah 30% (predikat maksimal IK-3, dan gerbang Terbaik ke-14): bank yang nyaris tidak menyalurkan kredit tidak lagi terangkat NPL 0% dan CAR "sempurna" dari buku yang kosong; 15 bank tersentuh, daftar Terbaik 187 → 186. Rasio cacat sisi pujian dinilai di lantai pitanya (Cash Ratio >500%, NIM >50%), bukan dibuang lalu bobotnya berpindah ke indikator lain (17 bank). Batas dua kali bobot ditegakkan lagi sesudah normalisasi lintas dimensi. Lintasan skor memakai mesin yang sama dengan matriks (termasuk MIAPB tak terhingga = 100 lewat penanda baru di deret tren), dan titik terakhirnya selalu sama dengan angka di matriks. Estimasi hapus buku disetahunkan untuk sinyal Hapus Buku Besar dan diagnosa "NPL turun lewat penghapusan", sejalan dengan Cost of Risk; bersinyal 574 → 600 bank. Δ nominal Growth Modal Inti dihitung dari selisih posisi, bukan dari growth (meleset saat basis negatif). Cabang diagnosa "predikat ditahan (keringanan modal)" yang mati sejak kalimat gerbangnya diubah dihidupkan lagi lewat id gerbang (181 bank). Gerbang Terbaik tidak lagi meloloskan NPL atau CAR yang tak terbaca. Uji luar sampel diperluas ke 14 BPR nasional yang izinnya dicabut 2025–2026 (18 dari 18 tertandai bersama empat BPR Jawa Tengah). Backtest tetap 4/4, uji daya pisah membaik di keempat kohor (+0,009 sampai +0,035). Di luar mesin skor: pil periode dan tombol akun yang terpotong di laptop, tombol unduh CSV yang tersembunyi di bawah 1560 px, dan gelembung chat yang menutup sakelar Ruang Periksa di ponsel dibereskan; berkas kerja internal ditutup dari produksi; kuota harga perkenalan dihitung per email; webhook pembayaran mengonfirmasi ke Status API sebelum mengaktifkan akses; logout mencabut semua sesi.
v5.414 Okt 2026Bank hasil penggabungan dinilai terhadap basis gabungan (lihat Batas data). Pada Juni 2026 sekitar 45 BPR berhenti melapor karena dilebur ke bank induk dalam grup pemiliknya, dan bank induknya terbaca tumbuh tiga sampai sembilan kali lipat dalam setahun: Nusamba Jabar aset +272% dan Growth Modal Inti +351% berlabel "Melonjak, periksa pemicunya", padahal pertumbuhan usahanya sesudah digabung −0,4% dan −2,0%. Kolom pembanding bank induk kini diganti posisi gabungan selama empat triwulan sejak penggabungan; growth, Biaya Dana, Cost of Risk, ROE, jembatan aset, dan estimasi hapus buku ikut memakainya. Penggabungan dideteksi dari laporan publikasi (laporan berhenti + lonjakan anggota grup kepemilikan yang sama, diuji di empat pos sekaligus) dan dilengkapi daftar yang sudah dipastikan; susunan yang ambigu dinyatakan n/b, bukan ditebak. Sejak Maret 2025 sampai September 2026 tercatat 47 penggabungan (31 basis gabungan, 16 n/b; angka per 18 Oktober 2026), dan 29 bank induk di periode Juni 2026 terkena penyesuaian. Predikat tidak ada yang berubah di periode mana pun; yang berubah label sel, lencana "ekspansi panas", Diagnosa Silang, dan sinyal Biaya Dana di atas LPS yang sebelumnya menuduh tanpa dasar.
v5.518 Okt 2026Seluruh rujukan regulasi dicocokkan ulang ke teks aslinya. Modal inti mengikuti aturan yang berlaku: laba tahun berjalan diakui penuh sejak posisi Maret 2025 (SEOJK 2/SEOJK.03/2025, sebelumnya separuh) dan surplus revaluasi aset tetap masuk modal inti sejak POJK 7/2026 berlaku pada 30 Juni 2026; pertumbuhan modal inti memakai aturan yang sama di kedua kolom supaya perubahan aturan tidak terbaca sebagai pertumbuhan. POJK 7/2026 kini dirujuk sebagai pengganti POJK 5/2015. Pinjaman Bank Lain/KYD diganti Pendanaan Non-Inti, pembilangnya sama tetapi penyebutnya seluruh pendanaan, persis parameter risiko likuiditas SEOJK 1/SEOJK.03/2019 (peringkat 1 di bawah 10%); diuji ke 1.479 BPR yang berangkat sehat di empat kohor, daya pisah skor naik di keempat hasil (+0,001 sampai +0,006). Tebing Cash Ratio dipindah dari 4,05% ke 5%: 4,05% adalah angka CAMEL Bank Indonesia 1997, sedangkan 5% adalah pemicu status Bank Dalam Penyehatan menurut POJK 28/2023; gerbang baru Cash Ratio di bawah 5% membatasi predikat di Rapuh, setara dengan gerbang KPMM di bawah 12% yang merupakan pemicu kembarannya (11 bank tersentuh, satu berubah predikat). Blok rasio OJK yang terbit kosong tidak lagi dinilai: nol di blok itu dulu memberi NPL dan BOPO sempurna sekaligus menjatuhkan bank ke IK-5 lewat CAR 0%; kini NPL, BOPO, dan LDR dihitung dari tabel laporan yang sama dan predikatnya dibatasi sampai CAR terbit (2 sampai 18 bank per periode). Bank yang NPL-nya terbaca di atas 100% tidak lagi hilang dari matriks, dan Biaya Dana di atas 30% dinilai di lantai pitanya, bukan dianggap tak terukur. Lensa TKS mendapat bagian Profil Risiko: enam parameter risiko inheren kredit dan likuiditas dari SEOJK 1/SEOJK.03/2019 (lihat Hubungannya dengan Tingkat Kesehatan resmi). Ruang Periksa mendapat baris NPL Kredit Pihak Terkait. Dampak pada 2026 Q3, dibanding mesin v5.4 pada data yang sama: 48 BPR berganti predikat (35 naik, 13 turun), IK-1 123 → 128, IK-4 480 → 466; daftar Terbaik 174 → 179. Daya pisah skor terhadap kondisi setahun kemudian: tertekan +0,004, rugi atau ekuitas tergerus −0,003, NPL melonjak +0,005. Penurunan kecil di hasil kedua datang dari modal inti yang kini mengikuti aturan, dan aturan itu tidak dipilih berdasarkan daya pisah. Backtest tetap 4 dari 4.

10Koreksi & hak jawab

Seluruh angka IDEAL berasal dari laporan publikasi yang bank laporkan sendiri, tetapi pembacaannya tetap pekerjaan manusia dan mesin, dan keduanya bisa salah. Bila Anda pengurus BPR dan menemukan angka yang tidak cocok dengan laporan publikasi bank Anda, atau pembacaan yang menurut Anda keliru konteksnya:

Yang tidak kami layani: permintaan menaikkan skor atau menyembunyikan indikator tanpa dasar di laporan publikasi. Kredibilitas alat ini justru bergantung pada penolakan itu.

IDEAL adalah alat analisis independen berbasis data publik, bukan Tingkat Kesehatan (TKS) resmi OJK, bukan rekomendasi penempatan dana, dan bukan jaminan atas kondisi BPR mana pun. Setiap angka dapat ditelusuri sendiri ke laporan publikasi OJK.

© IDEAL — Analisis Laporan Keuangan BPR · Sumber data: laporan publikasi OJK (cfs.ojk.go.id)