340 BPR nombok per Juni 2026
Laporan publikasi triwulan II 2026 sudah masuk semua. Kami mengambil 1.249 laporan BPR, menghitung ulang rasionya dari angka-angka di laporan itu, lalu mengajukan satu pertanyaan: ada berapa bank yang beban operasionalnya lebih besar daripada pendapatan operasionalnya?
Hasilnya 340 bank, atau 27,2 persen dari seluruh BPR yang melapor.
Jadi per Juni 2026, lebih dari satu di antara empat BPR di Indonesia mengeluarkan biaya lebih besar daripada yang dihasilkan usahanya.
Dari mana angkanya
IDEAL tidak ada hubungannya dengan OJK dan bukan lembaga pengawas. Bahan kami terbuka untuk siapa saja: laporan publikasi triwulanan yang wajib diterbitkan setiap BPR lewat OJK. Siapa pun bisa mengunduhnya satu per satu di cfs.ojk.go.id.
Pekerjaan kami cuma yang membosankan. Semua laporan kami unduh, formatnya kami seragamkan, lalu kami simpan berderet tujuh triwulan. Dengan begitu pertanyaan seperti "berapa bank yang BOPO-nya di atas seratus persen" bisa dijawab dalam hitungan detik. Kalau dikerjakan satu-satu, butuh berminggu-minggu.
Skor dan predikat yang kami hitung bukan Tingkat Kesehatan resmi OJK. Angka di artikel ini adalah bacaan kami atas laporan yang diterbitkan bank sendiri, bukan penilaian pengawas.
Arti BOPO seratus persen
BOPO membandingkan dua angka di laporan laba rugi: beban operasional dibagi pendapatan operasional.
Kalau BOPO sebuah bank 85 persen, untuk mendapat seratus rupiah pendapatan bank itu mengeluarkan delapan puluh lima rupiah. Lima belas rupiah sisanya jadi laba operasional.
Kalau BOPO-nya 100 persen, seratus rupiah pendapatan habis dipakai untuk seratus rupiah biaya. Tidak ada yang tersisa.
Di atas seratus persen, bank itu nombok. Dengan BOPO 120 persen, setiap seratus rupiah pendapatan dibarengi biaya seratus dua puluh rupiah. Kekurangan dua puluh rupiahnya harus ditutup dari tempat lain: laba tahun-tahun sebelumnya, setoran pemilik, atau modal yang pelan-pelan tergerus.
Bank dengan BOPO di atas seratus masih bisa mencatat laba bersih kalau ada pendapatan non-operasional yang menolong. Tapi pendapatan seperti itu biasanya tidak datang tiap tahun. BOPO mengukur usaha pokok bank, bukan rezeki sesekali.
Makin kecil banknya, makin sering nombok
Setelah 1.249 bank itu dikelompokkan menurut besar asetnya, polanya jelas. Porsi bank yang nombok naik hampir teratur dari kelompok bank besar ke kelompok bank kecil.
Laporan publikasi BPR, OJK; diolah IDEAL
| Kelas aset | Jumlah BPR | BOPO median | BOPO di atas 100% |
|---|---|---|---|
| Rp 1 triliun ke atas | 29 | 83,53% | 2 (6,9%) |
| Rp 500 M – 1 T | 58 | 84,17% | 2 (3,4%) |
| Rp 250 – 500 M | 95 | 83,75% | 8 (8,4%) |
| Rp 100 – 250 M | 223 | 85,85% | 37 (16,6%) |
| Rp 50 – 100 M | 297 | 89,11% | 62 (20,9%) |
| Rp 25 – 50 M | 292 | 90,05% | 100 (34,2%) |
| di bawah Rp 25 M | 255 | 100,27% | 129 (50,6%) |
Baris terakhir perlu dibaca pelan-pelan. Di kelas aset di bawah Rp 25 miliar, BOPO median-nya 100,27 persen. Median itu angka tengah: separuh bank di kelas itu ada di atasnya, separuh lagi di bawahnya. Artinya bank yang posisinya persis di tengah kelompok ini pun sudah nombok. Dari 255 bank di kelas itu, 129 memang beroperasi rugi.
Di kelas teratas lain ceritanya. Dari 29 BPR beraset Rp 1 triliun ke atas, cuma dua yang BOPO-nya lewat seratus persen.
Ada satu kelas yang tidak ikut pola: kelas Rp 500 miliar sampai Rp 1 triliun, yang angkanya malah lebih rendah daripada kelas di atasnya. Kami belum tahu sebabnya, dan kami memilih mengakuinya daripada mengarang alasan.
Kenapa ongkos bank kecil lebih berat
Penjelasan di bagian ini tidak datang dari data. Ini penjelasan yang biasa dipakai orang yang mengurus BPR, dan kami sertakan supaya angka di atas bisa dibaca dengan konteksnya.
Setiap BPR wajib punya direksi, dewan komisaris, satuan kerja audit intern, sistem pelaporan, dan sistem teknologi yang memenuhi ketentuan. Biaya untuk semua itu tidak ikut mengecil kalau asetnya kecil. Bank beraset Rp 20 miliar dan bank beraset Rp 2 triliun sama-sama harus menyerahkan laporan dengan bentuk yang sama.
Kalau biaya tetapnya kurang lebih sama sementara pendapatannya jauh lebih kecil, rasionya tentu jauh lebih besar. Tabel di atas cocok dengan penjelasan itu, meski tabelnya sendiri tidak membuktikannya.
NPL tinggi, laba tipis
Di kelas aset terkecil, BOPO yang tinggi datang bersama dua angka lain yang juga buruk.
Kredit bermasalahnya paling tinggi. NPL gross median di kelas di bawah Rp 25 miliar 21,95 persen: dari setiap seratus rupiah yang dipinjamkan, hampir dua puluh dua rupiah tidak kembali sesuai jadwal. Di kelas Rp 1 triliun ke atas, angkanya 7,71 persen.
Labanya paling tipis. ROA median di kelas terkecil 0,40 persen, sedangkan di kelas teratas 2,04 persen. ROA menunjukkan berapa laba yang didapat dari setiap seratus rupiah aset yang dikelola.
Ketiga angka ini saling berkaitan, tapi dari angkanya saja kami tidak bisa memastikan mana yang lebih dulu. Kredit macet berhenti membayar bunga, sehingga pendapatan operasional turun dan BOPO naik walaupun biayanya tidak bertambah sepeser pun. Sebaliknya, bank yang bebannya sudah berat juga cenderung mengejar kredit yang lebih berisiko. Yang bisa kami katakan cuma bahwa ketiganya muncul bersamaan.
Batas data ini
Ada beberapa hal yang wajib kami sebut, dan ini bukan sekadar basa-basi hukum.
- Angkanya berasal dari laporan yang diterbitkan bank sendiri. Kalau laporannya
keliru, bacaan kami ikut keliru. Laporan triwulanan juga tidak diaudit; yang lazim diperiksa akuntan publik cuma posisi Desember.
- BOPO satu triwulan belum bisa dijadikan vonis. Bank yang baru saja menanggung
kerugian besar sekaligus untuk membersihkan neracanya akan kelihatan buruk pada periode itu, justru karena sedang berbenah. Dari angka satu triwulan, keduanya tidak bisa dibedakan.
- BOPO yang diterbitkan OJK tidak selalu sama dengan hasil beban dibagi
pendapatan dari laporan yang sama. Pada tiga perempat bank selisihnya nol, tapi pada sebagian kecil selisihnya besar. Kami memakai hitungan dari angka asli di laporannya.
- Kelas aset dipotong pada angka bulat: Rp 25 miliar, Rp 50 miliar, dan
seterusnya. Bank yang asetnya dekat dengan batas itu bisa pindah kelas karena perubahan kecil saja, dan median tiap kelompok ikut bergeser.
- Di artikel ini tidak ada satu pun nama bank, dan itu kami sengaja. BOPO di
atas seratus persen tidak bisa dipakai untuk menilai apakah sebuah bank akan bertahan. Ada yang sedang menjalankan rencana penyehatan, ada yang sedang merger, ada yang baru selesai membersihkan neraca. Menyebut namanya di sebelah kata "beroperasi rugi" sama saja dengan menuduh.
Catatan untuk pengurus bank kecil
Angka di atas bukan nasib yang pasti menimpa setiap bank kecil. Di kelas yang sama, BOPO antarbank berbeda jauh, dan tidak sedikit bank kecil yang BOPO-nya jauh di bawah median kelasnya. Ada juga yang menurunkan BOPO empat triwulan berturut-turut, salah satunya dari 155 persen ke 64 persen.
Anda bisa mengeceknya hari ini. Buka laporan publikasi bank Anda, bagi beban operasional dengan pendapatan operasional, lalu bandingkan hasilnya dengan median kelas aset Anda di tabel di atas. Kalau selisihnya jauh, yang perlu dicari berikutnya adalah pos beban mana yang paling besar: bunga dana, pencadangan risiko kredit, atau biaya menjalankan kantor.
Matriks IDEAL memecah BOPO ke dalam tiga pos itu untuk setiap BPR, dan membandingkannya dengan bank sekelas aset di wilayah pengawasan yang sama. Matriksnya gratis dan bisa dibuka tanpa mendaftar.
Menemukan angka yang tidak cocok dengan laporan bank Anda? Kirimkan lewat jalur koreksi dan hak jawab, dan kami akan memeriksanya ke berkas aslinya.
IDEAL adalah alat analisis independen berbasis laporan publikasi OJK (cfs.ojk.go.id), bukan Tingkat Kesehatan (TKS) resmi OJK, bukan rekomendasi penempatan dana, dan bukan jaminan atas kondisi BPR mana pun. Angka yang dikutip di artikel ini berasal dari laporan yang bank publikasikan sendiri dan dapat ditelusuri ulang oleh siapa pun. Keberatan atau hak jawab: lihat Koreksi & hak jawab.


