Tiga puluh BPR yang arahnya berbalik, dan satu di antaranya turun dari BOPO 216 persen

Belakangan ini angka industri BPR tidak enak dibaca. Tapi angka rata-rata juga menutupi bank yang bergerak ke arah sebaliknya. Kami mencari bank yang rasionya membaik empat triwulan berturut-turut tanpa sekali pun memburuk, lalu menyaringnya lagi dengan syarat yang jauh lebih ketat.

Terbit · 7 menit baca

30 BPR memperbaiki kredit macet atau beban operasionalnya empat triwulan berturut-turut

Industri memburuk, sebagian bank membaik

Kalau seluruh BPR dihitung bersama, median kredit macetnya naik tiga poin dalam enam triwulan. Angka itu benar, tapi itu angka seluruh industri, bukan angka satu bank.

Di industri yang sama ada bank yang terus membaik, dan membaiknya konsisten. Artikel ini membahas bank-bank itu.

Kami mencari dua hal di deret tujuh triwulan: bank yang NPL gross-nya turun empat triwulan berturut-turut tanpa putus, dan bank yang BOPO-nya turun empat triwulan berturut-turut tanpa putus. Syarat "tanpa putus" itu berat. Sekali saja angkanya memburuk dalam satu triwulan, rentetannya putus dan bank itu tidak masuk daftar.

Cara kami memilih nama

Kami tidak menyebut nama bank sembarangan. Aturannya satu: nama bank hanya kami sebut untuk kabar baik.

Dari hitungan pertama, ada 68 bank yang NPL-nya turun beruntun dan 69 bank yang BOPO-nya turun beruntun. Sebagian besar tidak masuk artikel ini, dan alasannya penting.

Ada bank yang NPL-nya turun dari 65 persen ke 43 persen selama enam triwulan. Arahnya membaik, dan itu kabar bagus untuk bank itu. Tapi kalau namanya kami sebut di artikel yang bisa dibaca nasabahnya, sama saja kami mengumumkan angka 43 persen tadi. Itu tidak akan kami lakukan.

Karena itu daftar pertama kami saring lagi dengan satu syarat: bank itu harus lolos seluruh gerbang kehati-hatian IDEAL pada posisi Juni 2026. Gerbang menguji hal yang tidak boleh tertutupi angka bagus di tempat lain, misalnya kredit macet yang lebih besar daripada kemampuan modal untuk menanggungnya, beban operasional yang jelas merugi, pendanaan yang rapuh, dan cadangan yang kurang. Rinciannya bisa dibaca di bagian gerbang di halaman metodologi.

Setelah disaring, tersisa 30 bank. Semuanya bersih pada periode ini, jadi menyebut nama mereka tidak membuka keadaan buruk siapa pun.

Satu catatan yang perlu dibaca bersama daftarnya: ini keadaan per Juni 2026, bukan untuk selamanya. Bisa saja ada bank yang keluar dari daftar ini pada rilis berikutnya, dan itu biasa. IDEAL juga bukan OJK. Gerbang dan skor di sini adalah bacaan kami atas laporan publikasi, bukan Tingkat Kesehatan resmi.

NPL yang turun tanpa putus

Kolom NPL gross dimulai dari awal rentetan, bukan dari periode paling awal di data kami. Dengan begitu, bank yang sempat memburuk lebih dulu tidak tampil seolah membaik terus sejak awal.

BPRKRNPL grossRentetan
Prima NadiKR318,29% → 5,27%6 triwulan
Kancana Dewata MahadhanaKR315,57% → 1,51%4 triwulan
Sentral Ekonomi NusantaraKR311,64% → 6,25%4 triwulan
Wijaya Mulya SentosaKR411,59% → 3,17%5 triwulan
Amerta SariKR311,03% → 5,87%4 triwulan
Maroba IteKR58,81% → 4,59%6 triwulan
Bank Brebes (Perseroda)KR48,41% → 4,95%6 triwulan
Sandi Raya UtamaKR37,88% → 1,97%4 triwulan
Sari Wira TamaKR37,75% → 3,13%4 triwulan
Prima Mulia AnugrahKR56,89% → 4,85%5 triwulan
Sanggam Cipta Sejahtera BalanganKR16,41% → 4,06%6 triwulan
Datagita MustikaKR25,23% → 0,87%4 triwulan
Lingga SejahteraKR13,67% → 0,99%4 triwulan
Indra CandraKR33,41% → 2,45%4 triwulan
Danamas Simpan PinjamKR51,43% → 0,18%6 triwulan

Penurunan paling tajam dicatat Kancana Dewata Mahadhana. Pada Juni 2025, saat rentetannya dimulai, NPL gross bank itu 15,57 persen: dari setiap seratus rupiah yang dipinjamkan, lebih dari lima belas rupiah tidak kembali sesuai jadwal. Empat triwulan kemudian angkanya tinggal 1,51 persen.

Aset bank ini Rp 33 miliar, masuk kelas terkecil kedua. Di bank sekecil itu, perbaikan sebesar ini bisa datang dari beberapa jalan sekaligus: penagihan yang berhasil, restrukturisasi, hapus buku, atau kredit baru yang ikut memperbesar angka pembaginya. Laporan publikasi tidak memisahkan keempatnya, jadi kami tidak bisa menyebut mana yang terjadi.

Di ujung bawah tabel ada Danamas Simpan Pinjam, yang NPL-nya turun dari 1,43 persen ke 0,18 persen selama enam triwulan. Memperbaiki angka yang sudah bagus memang tidak seru dibaca. Tapi bank beraset Rp 502 miliar yang arahnya terjaga enam triwulan berturut-turut tidak sampai di sana dengan sendirinya.

BOPO yang turun dari 216 persen

BOPO membandingkan beban operasional dengan pendapatan operasional. BOPO 216 persen berarti untuk mendapat seratus rupiah pendapatan, bank itu mengeluarkan dua ratus enam belas rupiah.

BPRKRBOPORentetan
Berkat Artha MelimpahKR1216,71% → 81,52%6 triwulan
Abdi Warga MuliaKR3155,91% → 64,63%5 triwulan
Budi Intidana SentosaKR1119,04% → 66,25%6 triwulan
Dana MandiriKR5110,47% → 82,16%5 triwulan
Surya Arthaguna AbadiKR3107,95% → 83,16%5 triwulan
NagaKR3102,58% → 85,95%5 triwulan
Sari Wira TamaKR398,40% → 76,77%5 triwulan
Mayun Utama PerdanaKR392,13% → 84,52%5 triwulan
Raga JayatamaKR385,83% → 83,11%4 triwulan
Bank Klaten (Perseroda) Kabupaten KlatenKR482,79% → 77,68%5 triwulan
TapaKR379,53% → 74,37%5 triwulan
Ekadharma BhinaraharjaKR379,29% → 73,58%4 triwulan
Dhanatani CepiringKR478,05% → 70,82%4 triwulan
Sumberdhana AndaKR368,98% → 56,89%5 triwulan
LipatgandaKR167,40% → 63,35%5 triwulan
HokiKR364,16% → 56,08%5 triwulan

Berkat Artha Melimpah memulai rentetannya pada Desember 2024 dengan BOPO 216,71 persen, dan pada Juni 2026 angkanya 81,52 persen. BOPO bank ini turun enam triwulan berturut-turut tanpa sekali pun naik.

Baris kedua malah lebih menarik. Abdi Warga Mulia asetnya Rp 24 miliar, jadi masuk kelas aset terkecil. Di kelas itu median BOPO-nya malah di atas seratus persen, dan lebih dari separuh banknya beroperasi rugi. BOPO Abdi Warga Mulia turun dari 155,91 persen ke 64,63 persen, jauh di bawah median seluruh industri yang 89,11 persen.

Jadi bank kecil tidak ditakdirkan ikut angka kelasnya. Angka kelas cuma menunjukkan kecenderungan kelompok, dan di dalam kelompok yang sama, keadaan tiap bank bisa berbeda jauh.

Ada satu nama yang muncul di kedua tabel. Sari Wira Tama memperbaiki NPL dan BOPO sekaligus, masing-masing empat dan lima triwulan berturut-turut.

Batas data ini

Ada beberapa hal yang wajib kami sebut.

berikutnya ikut membaik. Tabel di atas menunjukkan yang sudah terjadi, bukan yang akan terjadi.

bisa turun karena penagihan, restrukturisasi, hapus buku, atau kredit baru yang memperbesar angka pembaginya. Bagi sebuah bank, keempatnya berarti hal yang sangat berbeda, dan laporan publikasi tidak memisahkannya.

cuma memeriksa dua rasio dan status gerbang. Bank yang sama bisa saja punya persoalan lain yang tidak terlihat dari dua kolom itu.

triwulanan tidak diaudit. Kalau laporannya keliru, bacaan kami ikut keliru.

posisi Juni 2026. Rilis berikutnya bisa mengubahnya, dan kalau berubah, bukan berarti daftar ini dulu salah.

seperti ini kami temukan di 127 bank. Sebanyak 97 di antaranya tidak kami masukkan karena masih ada gerbang yang belum mereka lewati. Sebagian dari 97 bank itu justru sedang berbenah besar-besaran, dan karena itulah namanya tidak kami sebut.

Cek posisi bank Anda

Rentetan seperti di atas bisa dilihat siapa saja, asal laporan publikasi tujuh triwulan sudah tersusun berderet. Yang merepotkan adalah menyusunnya kalau dikerjakan sendiri.

Matriks IDEAL menampilkan tren lima triwulan setiap indikator untuk setiap BPR pelapor, lengkap dengan posisinya dibanding bank sekelas aset di wilayah pengawasan yang sama. Tidak perlu mendaftar untuk membukanya. Daftar BPR yang lolos seluruh gerbang kehati-hatian ada di BPR IDEAL Terbaik.

Kalau ada angka yang menurut Anda keliru, termasuk angka bank Anda sendiri di daftar ini, sampaikan lewat jalur koreksi dan hak jawab. Kami akan mengeceknya ke laporan publikasi bank itu.

IDEAL adalah alat analisis independen berbasis laporan publikasi OJK (cfs.ojk.go.id), bukan Tingkat Kesehatan (TKS) resmi OJK, bukan rekomendasi penempatan dana, dan bukan jaminan atas kondisi BPR mana pun. Angka yang dikutip di artikel ini berasal dari laporan yang bank publikasikan sendiri dan dapat ditelusuri ulang oleh siapa pun. Keberatan atau hak jawab: lihat Koreksi & hak jawab.

Baca juga

Semua Kabar IDEAL →

© IDEAL — Analisis Laporan Keuangan BPR · Semua kabar