Tiga cara NPL bisa turun
Bayangkan tiga BPR yang keadaannya persis sama di awal tahun. Masing-masing menyalurkan kredit Rp 100 miliar, dan Rp 8 miliar di antaranya macet. NPL ketiganya 8 persen: dari setiap seratus rupiah yang dipinjamkan, delapan rupiah tidak kembali sesuai jadwal.
Bank pertama berhasil menagih Rp 5 miliar. Sebagian debiturnya melunasi, sebagian lagi agunannya terjual dan hasilnya menutup utang. Kredit macetnya tinggal Rp 3 miliar dari total Rp 95 miliar, jadi NPL-nya 3,2 persen.
Bank kedua menghapus buku Rp 5 miliar. Tidak ada uang yang masuk. Kreditnya dikeluarkan dari neraca, dan NPL-nya juga 3,2 persen, sama persis.
Bank ketiga tidak menagih dan tidak menghapus apa pun. Bank ini menyalurkan kredit baru Rp 70 miliar. Kredit macetnya tetap Rp 8 miliar, tapi sekarang dibandingkan dengan total kredit Rp 170 miliar, sehingga NPL-nya turun ke 4,7 persen.
Enam bulan kemudian, laporan ketiga bank itu sama-sama mencatat NPL di bawah 5 persen. Padahal cuma bank pertama yang benar-benar mendapatkan uangnya kembali.
Kami ingin tahu seberapa sering cara kedua dan ketiga dipakai di industri BPR, dan apakah bedanya bisa terlihat kalau laporan publikasinya dibaca lebih dari satu baris.
Sumber angkanya
IDEAL bukan lembaga pengawas dan tidak punya hubungan dengan OJK. Bahan kami sama dengan yang terbuka untuk siapa saja: laporan publikasi triwulanan yang wajib diterbitkan setiap BPR lewat situs OJK.
Semua laporan itu kami unduh, formatnya kami seragamkan, lalu kami simpan berderet tujuh triwulan, dari Desember 2024 sampai Juni 2026. Untuk triwulan II 2026 ada 1.249 laporan. Dengan data seperti ini, pertanyaan yang biasanya perlu ditelusuri berminggu-minggu, bank demi bank, bisa dijawab untuk seluruh industri sekaligus.
Skor dan predikat yang kami hitung bukan Tingkat Kesehatan resmi OJK. Angka di artikel ini adalah bacaan kami atas laporan yang diterbitkan bank sendiri.
Arti hapus buku
Hapus buku adalah langkah akuntansi yang sah, dan sering kali justru tanda kehati-hatian. Kredit macet yang kerugiannya sudah dicadangkan dikeluarkan dari neraca, supaya neraca tidak terus memuat piutang yang nilainya praktis nol.
Hapus buku juga tidak sama dengan hapus tagih. Tagihannya masih dicatat di rekening administratif, di laporan komitmen dan kontinjensi, dan bank tetap berhak menagihnya. Kalau suatu hari debiturnya membayar, uang itu dicatat sebagai pendapatan.
Kerugiannya pun tidak hilang. Kerugian itu sudah dibayar lebih dulu lewat beban pencadangan, yaitu biaya di laporan laba rugi untuk menyisihkan sebagian penghasilan bagi kredit yang diperkirakan tidak kembali. Jadi kerugiannya tetap tercatat, hanya pindah tempat: dari NPL di neraca ke beban pencadangan di laba rugi. Orang yang cuma melihat NPL tidak akan menemukannya.
Laporan publikasi BPR tidak mencantumkan hapus buku sebagai satu pos tersendiri. Kami menghitungnya dari tiga angka yang ada: saldo cadangan kerugian akhir Desember, ditambah beban pencadangan sejak awal tahun, dikurangi saldo cadangan di akhir periode. Selisihnya adalah cadangan yang sudah terpakai, dan cadangan hanya terpakai kalau ada aset yang dihapus. Untuk posisi Juni, hitungan ini mencakup enam bulan.
Rp 1,88 triliun dihapus buku dalam enam bulan
Hitungan itu bisa dijalankan untuk 1.209 BPR. Pada 37 bank lain, angka di tabel-tabel laporannya tidak saling cocok, jadi tidak kami hitung.
Laporan publikasi BPR, OJK; diolah IDEAL
| Posisi Juni 2026 | Seluruh BPR |
|---|---|
| Kredit yang disalurkan | Rp 157,75 T |
| Kredit bermasalah yang masih tercatat | Rp 19,70 T |
| NPL gross industri | 12,49% |
| Beban pencadangan, Januari–Juni | Rp 2,23 T |
| Estimasi hapus buku, Januari–Juni | Rp 1,88 T |
| Laba bersih seluruh BPR, digabung | Rp 1,68 T |
Dalam enam bulan, BPR menghapus buku kredit sekitar Rp 1,88 triliun. Angka itu lebih besar daripada laba bersih seluruh BPR yang digabung pada periode yang sama, Rp 1,68 triliun. Laba itu pun sudah dikurangi rugi bank-bank yang merugi.
Seandainya kredit yang dihapus itu masih ada di neraca, NPL industri per Juni 2026 bukan 12,49 persen, melainkan 13,52 persen. Soal arah NPL industri selama periode ini, ada tulisan kami sebelumnya.
Di tingkat bank, angkanya berbeda jauh. Separuh BPR menghapus buku kurang dari 0,63 persen kreditnya dalam semester itu. Sepersepuluh bank yang paling banyak menghapus mencatat 4,65 persen ke atas, tujuh kali angka tengahnya.
32 bank ber-NPL rendah menghapus lebih dari sisa NPL-nya
Dari 1.209 bank itu, 206 melaporkan NPL di bawah 5 persen per Juni 2026. Kelompok ini biasanya dianggap paling sehat, dan daftar peringkat BPR pada umumnya, termasuk skor kami sendiri, memberi nilai tinggi untuk NPL serendah itu.
Di antara 206 bank itu, 32 bank menghapus buku lebih banyak dalam enam bulan daripada seluruh kredit bermasalah yang masih mereka catat. Kredit macet yang dikeluarkan dari neraca selama semester itu lebih besar daripada sisa kredit macet yang masih tertinggal.
Tabel berikut membandingkan 32 bank itu dengan 174 bank lain yang NPL-nya juga di bawah 5 persen.
| Median, Juni 2026 | 32 bank | 174 bank lain |
|---|---|---|
| NPL gross | 0,65% | 3,58% |
| Beban pencadangan per kredit, setahun | 4,44% | 0,97% |
| Porsi beban pencadangan dalam biaya operasional | 12,34% | 3,92% |
| ROA | 2,54% | 2,66% |
Di tabel itu, NPL dan beban pencadangan bergerak berlawanan. NPL kelompok 32 bank paling rendah, mediannya 0,65 persen, jauh lebih bersih daripada 174 bank lain. Tapi ongkos risiko kredit mereka empat setengah kali lebih mahal: beban pencadangannya 4,44 persen dari kredit per tahun, dibanding 0,97 persen.
NPL mencatat kredit macet yang masih tersisa pada hari laporan dibuat. Beban pencadangan mencatat berapa yang sudah dikeluarkan untuk kredit macet sepanjang tahun. Di bank-bank ini, NPL-nya kecil justru karena beban pencadangannya besar.
Baris ROA juga penting. Laba terhadap aset kedua kelompok hampir sama, jadi sebagian besar bank ini tetap untung. Pendapatan bunganya cukup besar untuk menutup kerugian kredit sebanyak itu. Tapi di 15 dari 32 bank, hapus buku semester I lebih besar daripada laba bersih di semester yang sama, dan 4 bank mencatat rugi.
Kalau hapus buku semester I dikembalikan ke neraca, 48 dari 206 bank yang NPL-nya di bawah 5 persen akan melewati 5 persen. Hampir satu dari empat bank di kelompok paling bersih itu baru masuk ke sana setelah kredit macetnya dikeluarkan.
Kenapa tidak ada nama bank di sini
Tidak satu pun dari 32 bank itu kami sebut namanya, dan ini kami sengaja. Hapus buku yang besar tidak bisa dipakai untuk menilai apakah sebuah bank akan bertahan. Ada bank yang sedang membersihkan kredit lama sekaligus sebelum tumbuh lagi, ada juga yang memang menjalankan usaha kredit berbunga tinggi yang kerugiannya sudah diperhitungkan sejak awal. Angka satu semester tidak bisa membedakan keduanya, dan menyebut nama di sebelah pola seperti ini sama dengan menuduh.
Kredit baru ikut menurunkan NPL
Cara ketiga dalam contoh di awal tidak membutuhkan hapus buku. Kredit yang baru disalurkan hampir selalu lancar di bulan-bulan pertama, karena cicilannya baru mulai berjalan. Karena itu NPL bank yang kreditnya tumbuh cepat otomatis turun, walaupun kredit macet lamanya tidak berkurang sama sekali.
Per Juni 2026, ada 32 bank ber-NPL di bawah 5 persen yang kreditnya tumbuh 50 persen atau lebih dalam setahun. Tujuh di antaranya juga masuk kelompok hapus buku tadi.
Dari angka ini, mutu kredit barunya belum bisa diketahui. NPL bank yang sedang tumbuh secepat itu memang belum bisa dibaca sebagai hasil akhir. Kredit yang disalurkan tahun ini baru akan kelihatan mutunya satu atau dua tahun lagi.
Keadaan mereka setahun kemudian
Kalau hapus buku sebesar ini cuma pembersihan sekali jalan, bank-bank itu mestinya terlihat biasa saja setahun kemudian. Data tujuh triwulan cukup untuk mengeceknya dari tiga titik awal yang berbeda.
Di setiap titik, kami mengambil semua bank ber-NPL di bawah 5 persen, lalu memisahkan bank yang hapus bukunya lebih besar daripada sisa NPL-nya. Di tabel berikut, bank seperti itu kami sebut kelompok hapus buku. Setelah itu kami melihat keadaan kedua kelompok di periode yang sama setahun kemudian.
Pada ketiga titik awal, kelompok hapus buku berisi 47, 21, dan 35 bank, sedangkan kelompok lainnya 228, 174, dan 131 bank. Kolom Des 24, Mar 25, dan Jun 25 adalah ketiga titik awal itu, dan semua angkanya diukur setahun sesudahnya.
| Des 24 | Mar 25 | Jun 25 | |
|---|---|---|---|
| Rugi, hapus buku | 14,9% | 28,6% | 22,9% |
| Rugi, lainnya | 3,9% | 11,5% | 8,4% |
| Ulang pola, hapus buku | 40,4% | 38,1% | 40,0% |
| Ulang pola, lainnya | 14,0% | 6,3% | 4,6% |
| NPL ≥ 5%, hapus buku | 29,8% | 33,3% | 14,3% |
| NPL ≥ 5%, lainnya | 25,4% | 31,6% | 28,2% |
Setahun kemudian, NPL kelompok hapus buku tidak lebih buruk daripada bank lain, bahkan di satu titik lebih baik. Justru itu yang paling penting dari tabel ini. Bank yang terus mengeluarkan kredit macetnya dari neraca akan terus melaporkan NPL kecil, sehingga keadaan mereka tidak kelihatan dari NPL.
Baris rugi dan ulang pola menunjukkan hal lain. Di ketiga titik, kelompok hapus buku dua setengah sampai hampir empat kali lebih sering mencatat rugi setahun kemudian. Sekitar empat dari sepuluh bank di kelompok ini mengulang pola yang sama, yaitu hapus buku yang lagi-lagi lebih besar daripada sisa NPL-nya. Di kelompok lain, paling banyak satu dari tujuh.
Bagi sebagian bank, hapus buku ternyata bukan pembersihan sekali jalan, melainkan kebiasaan yang berulang. Kerugian kreditnya tidak pernah menumpuk di NPL karena terus dikeluarkan, dan ongkosnya dibayar dari laba tahun berjalan. Selama labanya cukup, NPL tidak memperlihatkan apa-apa. Begitu labanya tidak cukup, yang lebih dulu memburuk adalah laba, bukan NPL.
Cara membaca tabel ini
Tabel di atas tidak meramalkan nasib bank mana pun. Kelompoknya kecil, antara 21 dan 47 bank, dan sebagian banknya muncul lagi di titik awal yang lain, jadi ketiganya bukan tiga bukti yang berdiri sendiri. Yang bisa disimpulkan dari tabel ini cuma satu: NPL rendah yang disertai hapus buku besar berbeda dari NPL rendah biasa, dan bedanya tidak terlihat dari NPL itu sendiri.
Batas data ini
- Semua angka berasal dari laporan yang diterbitkan bank sendiri. Kalau
laporannya keliru, bacaan kami ikut keliru. Laporan triwulanan tidak diaudit; yang lazim diperiksa akuntan publik cuma posisi Desember.
- Hapus buku di sini adalah hasil perkiraan kami, bukan angka yang dilaporkan
bank. Hitungannya memakai seluruh cadangan kerugian, termasuk cadangan untuk penempatan dana di bank lain, bukan hanya kredit. Di bank yang cadangan di luar kreditnya bergerak besar, perkiraannya bisa meleset ke atas maupun ke bawah.
- Sejak 1 Januari 2025 BPR wajib membentuk cadangan kerugian sesuai standar
akuntansi, menggantikan cara penyisihan sebelumnya. Peralihan itu bisa mengubah saldo cadangan tanpa ada kredit yang dihapus, dan titik awal Desember 2024 paling mungkin terpengaruh.
- Beban pencadangan yang besar bisa juga berarti bank sedang mengakui masalah
lebih cepat daripada yang diwajibkan, dan itu sikap yang lebih hati-hati. Dari angka satu semester, bank seperti itu tidak bisa dibedakan dari bank yang kerugian kreditnya memang tinggi.
- Rugi pada titik Maret dan Juni adalah rugi tahun berjalan, belum setahun
penuh. Bank yang rugi di pertengahan tahun masih bisa menutup tahun dengan laba.
- Beberapa bank tidak menerbitkan laporan setahun kemudian dan tidak ikut
dihitung. Di kelompok hapus buku jumlahnya dua, satu, dan satu bank untuk ketiga titik awal.
- Skor IDEAL sendiri ikut memberi nilai tinggi untuk NPL rendah. Beban
pencadangan memang ikut diberi bobot, dan matriks kami memberi tanda khusus kalau NPL turun bersamaan dengan hapus buku yang besar. Tapi bobot NPL tetap lebih besar daripada bobot beban pencadangan.
Catatan untuk penabung dan pengurus BPR
Bagi penabung, NPL rendah tetap kabar baik. Cukup biasakan membaca dua atau tiga angka lain di laporan yang sama.
Bagi pengurus BPR, ada tiga pertanyaan yang bisa dibawa ke rapat direksi berikutnya:
- Berapa beban pencadangan kita sejak Januari, dibanding kredit yang kita
salurkan? Median seluruh BPR per Juni 2026 sekitar 2,2 persen setahun.
- Berapa kredit yang kita hapus buku semester ini, dibanding sisa NPL kita?
Kalau yang dihapus lebih besar, NPL kita baru menunjukkan separuh keadaan.
- Berapa saldo rekening administratif kredit hapus buku kita, dan ke mana
arahnya? Kalau saldonya naik, tagihannya masih dicatat dan masih bisa dikejar.
Matriks IDEAL memuat baris beban pencadangan dan perkiraan hapus buku untuk setiap BPR, dibandingkan dengan bank sekelas aset di wilayah pengawasan yang sama. Semua isinya bisa dibuka gratis tanpa akun.
Angka yang menurut Anda salah bisa diajukan lewat jalur koreksi dan hak jawab. Kami akan mencocokkannya dengan laporan publikasi bank yang bersangkutan.
Sumber
IDEAL adalah alat analisis independen berbasis laporan publikasi OJK (cfs.ojk.go.id), bukan Tingkat Kesehatan (TKS) resmi OJK, bukan rekomendasi penempatan dana, dan bukan jaminan atas kondisi BPR mana pun. Angka yang dikutip di artikel ini berasal dari laporan yang bank publikasikan sendiri dan dapat ditelusuri ulang oleh siapa pun. Keberatan atau hak jawab: lihat Koreksi & hak jawab.


