NPL rendah belum tentu kreditnya kembali
NPL adalah angka pertama yang dilihat orang untuk menilai kredit sebuah bank. Angka itu bisa turun karena tagihannya masuk, bisa juga karena kreditnya dikeluarkan dari neraca, dan di laporan hasilnya terlihat sama. Dari laporan publikasi triwulan II 2026 kelihatan seberapa sering jalan kedua dipakai, termasuk di bank-bank yang NPL-nya paling rendah.
Tiga bank, satu angka
Bayangkan tiga BPR yang pada awal tahun keadaannya persis sama. Masing-masing menyalurkan kredit Rp 100 miliar, dan Rp 8 miliar di antaranya macet. NPL ketiganya 8 persen: dari setiap seratus rupiah yang dipinjamkan, delapan rupiah tidak kembali sesuai jadwal.
Bank pertama berhasil menagih Rp 5 miliar. Sebagian debiturnya melunasi, sebagian agunannya terjual dan hasilnya menutup utang. Kredit macetnya tinggal Rp 3 miliar dari Rp 95 miliar, jadi NPL-nya 3,2 persen.
Bank kedua menghapus buku Rp 5 miliar. Tidak ada uang yang masuk. Kreditnya dikeluarkan dari neraca, dan NPL-nya juga 3,2 persen, sama sampai desimal terakhir.
Bank ketiga tidak menagih dan tidak menghapus apa pun. Bank ini menyalurkan kredit baru Rp 70 miliar. Kredit macetnya tetap Rp 8 miliar, tapi sekarang dibagi Rp 170 miliar, sehingga NPL-nya turun ke 4,7 persen.
Enam bulan kemudian, ketiga laporan itu sama-sama memuat NPL di bawah 5 persen. Hanya bank pertama yang benar-benar mendapatkan uangnya kembali.
Kami ingin tahu seberapa sering jalan kedua dan ketiga dipakai di industri BPR, dan apakah bedanya kelihatan kalau laporan publikasinya dibaca lebih dari satu baris.
Bahan dan penyusunnya
IDEAL bukan lembaga pengawas dan tidak punya hubungan dengan OJK. Bahan kami sama dengan yang terbuka untuk siapa saja: laporan publikasi triwulanan yang wajib diterbitkan setiap BPR lewat situs OJK.
Kami mengunduh seluruhnya, menyeragamkan formatnya, dan menyimpannya sebagai deret tujuh triwulan berturut-turut, dari Desember 2024 sampai Juni 2026. Untuk triwulan II 2026 ada 1.249 laporan. Dengan panel seperti itu, pertanyaan yang biasanya perlu berminggu-minggu ditelusuri satu per satu bisa dijawab untuk seluruh industri sekaligus.
Skor dan predikat yang kami hitung bukan Tingkat Kesehatan resmi OJK. Angka di artikel ini adalah bacaan kami atas laporan yang diterbitkan bank sendiri.
Apa yang terjadi saat kredit dihapus buku
Hapus buku adalah langkah akuntansi yang sah, dan sering justru tanda kehati-hatian. Kredit macet yang kerugiannya sudah dicadangkan dikeluarkan dari neraca, supaya neraca tidak terus memuat piutang yang nilainya praktis nol.
Hapus buku juga bukan hapus tagih. Tagihannya masih dicatat di rekening administratif, di laporan komitmen dan kontinjensi, dan bank tetap berhak menagihnya. Kalau suatu hari debiturnya membayar, uang itu masuk sebagai pendapatan.
Kerugiannya pun tidak hilang. Kerugian itu sudah dibayar lebih dulu lewat beban pencadangan, yaitu biaya di laporan laba rugi yang menyisihkan sebagian penghasilan untuk menutup kredit yang diperkirakan tidak kembali. Jadi kerugiannya tetap tercatat, hanya tempatnya pindah: dari rasio NPL di neraca ke beban pencadangan di laba rugi. Pembaca yang cuma melihat NPL tidak akan menemukannya.
Laporan publikasi BPR tidak mencetak hapus buku sebagai satu pos. Kami menghitungnya dari tiga angka yang tersedia: saldo cadangan kerugian pada akhir Desember, ditambah beban pencadangan sejak awal tahun, dikurangi saldo cadangan pada akhir periode. Selisih itu adalah cadangan yang terpakai, dan cadangan hanya terpakai kalau ada aset yang dihapus. Untuk posisi Juni, hitungannya mencakup enam bulan.
Semester pertama 2026, seluruh industri
Hitungan itu bisa dijalankan untuk 1.209 BPR. Pada 37 bank lain, angka di tabel-tabel laporannya tidak saling cocok, jadi tidak kami hitung.
| Posisi Juni 2026 | Seluruh BPR |
|---|---|
| Kredit yang disalurkan | Rp 157,75 T |
| Kredit bermasalah yang masih tercatat | Rp 19,70 T |
| NPL gross industri | 12,49% |
| Beban pencadangan, Januari–Juni | Rp 2,23 T |
| Estimasi hapus buku, Januari–Juni | Rp 1,88 T |
| Laba bersih seluruh BPR, digabung | Rp 1,68 T |
Dalam enam bulan, BPR menghapus buku kredit senilai kira-kira Rp 1,88 triliun. Angka itu lebih besar daripada gabungan laba bersih seluruh BPR pada periode yang sama, Rp 1,68 triliun. Angka laba itu sudah dikurangi kerugian bank yang merugi.
Seandainya kredit yang dihapus itu masih ada di neraca, NPL industri per Juni 2026 bukan 12,49 persen, melainkan 13,52 persen. Tentang arah NPL industri sepanjang panel ini, ada tulisan kami sebelumnya.
Di tingkat bank, sebarannya lebar. Separuh BPR menghapus buku kurang dari 0,63 persen kreditnya dalam semester itu. Sepersepuluh yang paling banyak menghapus mencatat 4,65 persen ke atas, tujuh kali angka tengahnya.
Bank dengan NPL paling bersih
Dari 1.209 bank itu, 206 melaporkan NPL di bawah 5 persen per Juni 2026. Kelompok ini biasanya dianggap paling sehat, dan daftar peringkat BPR umumnya, termasuk skor kami sendiri, memberi nilai tinggi untuk NPL serendah itu.
Di antara ke-206 bank itu, 32 bank menghapus buku lebih banyak dalam enam bulan daripada seluruh kredit bermasalah yang masih mereka catat. Kredit macet yang dikeluarkan dari neraca sepanjang semester lebih besar daripada sisa kredit macet yang tertinggal di sana.
Di tabel berikut, ke-32 bank itu disandingkan dengan 174 bank ber-NPL di bawah 5 persen lainnya.
| Median, Juni 2026 | 32 bank | 174 bank lain |
|---|---|---|
| NPL gross | 0,65% | 3,58% |
| Beban pencadangan per kredit, setahun | 4,44% | 0,97% |
| Porsi beban pencadangan dalam biaya operasional | 12,34% | 3,92% |
| ROA | 2,54% | 2,66% |
NPL dan beban pencadangan di tabel itu bergerak berlawanan arah. Kelompok 32 bank punya NPL paling rendah, 0,65 persen di tengah-tengahnya, jauh lebih bersih daripada 174 bank lain. Tapi untuk risiko kredit mereka membayar empat setengah kali lebih mahal: beban pencadangan 4,44 persen dari kredit per tahun, dibanding 0,97 persen.
NPL memotret kredit macet yang masih tersisa pada hari laporan dibuat. Beban pencadangan mencatat berapa yang sudah dibayar untuk kredit macet sepanjang tahun. Di bank-bank ini, angka pertama kecil karena angka kedua besar.
Baris ROA sama pentingnya. Laba terhadap aset kedua kelompok hampir sama, jadi sebagian besar bank ini tetap untung. Pendapatan bunganya cukup tebal untuk menutup kerugian kredit sebesar itu. Meski begitu, di 15 dari 32 bank, hapus buku semester I lebih besar daripada laba bersih semester yang sama, dan 4 bank mencatat rugi.
Kalau hapus buku semester I dikembalikan ke neraca, 48 dari 206 bank ber-NPL di bawah 5 persen akan melewati 5 persen. Hampir satu dari empat bank di kelompok paling bersih itu baru berada di sana setelah kredit macetnya dikeluarkan.
Kenapa tidak ada nama bank di sini
Kami tidak menyebut satu pun dari ke-32 bank itu, dan itu keputusan, bukan kelalaian. Dari hapus buku yang besar tidak bisa disimpulkan apa pun soal kelangsungan sebuah bank. Sebagian sedang membersihkan kredit lama sekaligus sebelum tumbuh lagi, sebagian memang menjalankan usaha kredit berbunga tinggi yang kerugiannya sudah diperhitungkan sejak awal. Angka satu semester tidak bisa membedakan keduanya, dan menyebut nama sebaris dengan pola ini sama dengan menuduh.
Pembagi yang ikut membesar
Jalan ketiga dari contoh di awal tidak memerlukan hapus buku. Kredit yang baru disalurkan hampir selalu lancar di bulan-bulan pertama, karena cicilannya baru mulai berjalan. NPL bank yang kreditnya tumbuh cepat otomatis turun, meski kredit macet lamanya tidak berkurang sama sekali.
Per Juni 2026, 32 bank ber-NPL di bawah 5 persen mencatat pertumbuhan kredit 50 persen atau lebih dalam setahun. Tujuh di antaranya juga masuk kelompok hapus buku tadi.
Dari angka ini belum bisa diketahui mutu kredit barunya. NPL bank yang sedang tumbuh secepat itu memang belum bisa dibaca sebagai hasil akhir. Kredit angkatan tahun ini baru akan menunjukkan mutunya satu atau dua tahun lagi.
Setahun kemudian
Kalau hapus buku sebesar ini cuma pembersihan sekali jalan, bank-bank itu mestinya tampak biasa saja setahun kemudian. Panel tujuh triwulan cukup untuk memeriksanya dari tiga titik awal yang berbeda.
Pada tiap titik, kami mengambil semua bank ber-NPL di bawah 5 persen dan memisahkan bank yang hapus bukunya melebihi sisa NPL. Di tabel berikut, bank seperti itu disebut kelompok hapus buku. Lalu kami melihat keadaan kedua kelompok pada periode yang sama setahun sesudahnya.
Untuk ketiga titik awal, kelompok hapus buku berisi 47, 21, dan 35 bank, sedangkan kelompok lainnya 228, 174, dan 131 bank. Kolom Des 24, Mar 25, dan Jun 25 adalah ketiga titik awal itu. Semua angkanya diukur setahun sesudahnya.
| Des 24 | Mar 25 | Jun 25 | |
|---|---|---|---|
| Rugi, hapus buku | 14,9% | 28,6% | 22,9% |
| Rugi, lainnya | 3,9% | 11,5% | 8,4% |
| Ulang pola, hapus buku | 40,4% | 38,1% | 40,0% |
| Ulang pola, lainnya | 14,0% | 6,3% | 4,6% |
| NPL ≥ 5%, hapus buku | 29,8% | 33,3% | 14,3% |
| NPL ≥ 5%, lainnya | 25,4% | 31,6% | 28,2% |
Setahun kemudian, NPL kelompok hapus buku tidak lebih buruk daripada bank lain, bahkan di satu titik lebih baik. Hasil itu justru yang paling penting. Bank yang terus mengeluarkan kredit macetnya dari neraca akan terus melaporkan NPL kecil, dan dari NPL saja keadaan mereka tidak terbaca.
Baris rugi dan ulang pola bercerita lain. Di ketiga titik, kelompok ini dua setengah sampai hampir empat kali lebih sering mencatat rugi setahun kemudian. Sekitar empat dari sepuluh mengulang pola yang sama, hapus buku yang lagi-lagi melebihi sisa NPL-nya, sementara di kelompok lain paling banyak satu dari tujuh.
Bagi sebagian bank, hapus buku ternyata bukan pembersihan sekali jalan tapi cara kerja yang berulang. Kerugian kreditnya tidak pernah menumpuk di NPL karena terus dikeluarkan, dan ongkosnya dibayar dari laba tahun berjalan. Selama laba cukup, NPL tidak memperlihatkan apa-apa. Begitu laba tidak cukup, angka yang pertama bergerak adalah laba, bukan NPL.
Cara membaca tabel ini
Tabel di atas tidak meramalkan nasib bank mana pun. Kelompoknya kecil, antara 21 dan 47 bank, dan ketiga titik awal sebagian berisi bank yang sama, jadi ketiganya bukan tiga bukti yang berdiri sendiri. Dari tabel ini cuma bisa dibaca bahwa NPL rendah yang disertai hapus buku besar adalah keadaan yang berbeda dari NPL rendah biasa, dan bedanya tidak kelihatan di NPL itu sendiri.
Batas bacaan ini
- Semua angka berasal dari laporan yang diterbitkan bank sendiri. Kalau
laporannya keliru, bacaan kami ikut keliru. Laporan triwulanan tidak diaudit; hanya posisi Desember yang lazim diperiksa akuntan publik.
- Hapus buku di sini adalah estimasi, bukan angka yang dilaporkan bank.
Hitungannya memakai seluruh cadangan kerugian, termasuk cadangan untuk penempatan dana di bank lain, bukan hanya kredit. Pada bank yang cadangan di luar kreditnya bergerak besar, estimasinya bisa meleset ke dua arah.
- Sejak 1 Januari 2025 BPR wajib membentuk cadangan kerugian menurut standar
akuntansi, menggantikan cara penyisihan sebelumnya. Peralihan itu bisa menggeser saldo cadangan tanpa ada kredit yang dihapus, dan titik awal Desember 2024 paling mungkin terpengaruh.
- Beban pencadangan yang besar bisa berarti bank sedang mengakui masalah lebih
cepat daripada yang diwajibkan, dan itu sikap yang lebih berhati-hati. Dari angka satu semester, bank seperti itu tidak bisa dibedakan dari bank yang kerugian kreditnya memang tinggi.
- Rugi pada titik Maret dan Juni adalah rugi tahun berjalan, belum setahun
penuh. Bank yang rugi di pertengahan tahun masih bisa menutup tahun dengan laba.
- Beberapa bank tidak menerbitkan laporan setahun kemudian dan tidak ikut
dihitung. Di kelompok hapus buku jumlahnya dua, satu, dan satu bank untuk ketiga titik awal.
- Skor IDEAL sendiri ikut memberi nilai tinggi untuk NPL rendah. Beban
pencadangan memang ikut berbobot, dan matriks kami memberi tanda khusus bila NPL turun bersamaan dengan hapus buku yang besar, tapi bobot NPL tetap lebih besar daripada bobot beban pencadangan.
Tiga angka untuk dibaca bersama NPL
Bagi penabung, NPL rendah tetap kabar baik. Cukup tambahkan kebiasaan membaca dua atau tiga angka lain di laporan yang sama.
Bagi pengurus BPR, pertanyaannya bisa dibawa ke rapat direksi berikutnya:
- Berapa beban pencadangan kita sejak Januari, dibanding kredit yang kita
salurkan? Median seluruh BPR per Juni 2026 sekitar 2,2 persen setahun.
- Berapa kredit yang kita hapus buku semester ini, dibanding sisa NPL kita?
Kalau yang dihapus lebih besar, NPL kita baru menceritakan separuh keadaan.
- Berapa saldo rekening administratif kredit hapus buku kita, dan ke mana
arahnya? Saldo yang naik berarti tagihannya masih dicatat dan masih bisa dikejar.
Matriks IDEAL memuat baris beban pencadangan dan estimasi hapus buku untuk setiap BPR, dengan pembanding sesama bank di kelas aset dan wilayah pengawasan yang sama. Skor, peringkat, dan predikat seluruh BPR pelapor terbuka tanpa akun.
Kalau ada angka yang menurut Anda keliru, jalur koreksi dan hak jawab terbuka, dan setiap koreksi kami periksa ke laporan publikasinya.
Sumber
IDEAL adalah alat analisis independen berbasis laporan publikasi OJK (cfs.ojk.go.id), bukan Tingkat Kesehatan (TKS) resmi OJK, bukan rekomendasi penempatan dana, dan bukan jaminan atas kondisi BPR mana pun. Angka yang dikutip di artikel ini berasal dari laporan yang bank publikasikan sendiri dan dapat ditelusuri ulang oleh siapa pun. Keberatan atau hak jawab: lihat Koreksi & hak jawab.