Aset, kredit, dan simpanan naik sekitar tiga persen
Per September 2026, ada 1.213 BPR yang menerbitkan laporan publikasi. Kalau seluruh angkanya dijumlahkan, hasilnya begini:
| Seluruh BPR pelapor | Sep 2025 | Sep 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Jumlah BPR | 1.323 | 1.213 | |
| Total aset | Rp 209,54 T | Rp 215,82 T | 3,00% |
| Kredit | Rp 154,31 T | Rp 158,82 T | 2,92% |
| Tabungan dan deposito | Rp 147,66 T | Rp 152,21 T | 3,08% |
| Laba Januari–September | Rp 2,79 T | Rp 2,57 T | −7,6% |
Angka pertumbuhannya sejalan dengan data OJK yang dikutip Perbarindo pada Munas XII-nya, 19 Oktober 2026: per Agustus 2026, kredit BPR dan BPR Syariah tumbuh 3,37 persen, aset 3,22 persen, dan dana pihak ketiga 3,14 persen. Ketua Umum Perbarindo Tedy Alamsyah memperkirakan kredit BPR tumbuh sekitar tiga persen sampai akhir tahun. Data kami mencakup BPR konvensional saja, tanpa BPR Syariah, jadi angkanya tidak harus sama persis.
Jumlah bank turun 110 dalam setahun, dan sebagian besar karena penggabungan: 85 dilebur ke BPR lain, sehingga asetnya pindah dan tetap terhitung. Ada 25 bank lain yang tidak lagi melapor, dengan aset Rp 2,81 triliun setahun sebelumnya. Kalau 25 bank itu dikeluarkan dari pembanding, aset tumbuh 4,40 persen, kredit 4,13 persen, dan simpanan 4,72 persen.
Sumber angka ini
IDEAL mengumpulkan laporan publikasi triwulanan yang diterbitkan setiap BPR lewat cfs.ojk.go.id, merapikannya ke satu format, dan menyusunnya berderet sejak posisi Desember 2024. Rinciannya ada di halaman metodologi.
Kami bukan OJK, dan skor serta predikat yang kami hitung bukan Tingkat Kesehatan resmi. Angka di artikel ini adalah jumlah dan median dari laporan yang diterbitkan bank sendiri.
Laba turun 12,1 persen pada bank yang sama
Laba seluruh industri turun 7,6 persen, tapi angka itu tercampur perubahan jumlah bank. Untuk perbandingan yang adil, kami hanya memakai 1.177 BPR yang melapor di kedua periode dan tidak terlibat penggabungan.
| 1.177 BPR yang sama | Sep 2025 | Sep 2026 |
|---|---|---|
| Laba Januari–September | Rp 2,54 T | Rp 2,23 T |
| BPR yang merugi | 271 | 317 |
| BOPO, median | 88,1% | 89,8% |
Laba bank-bank itu turun 12,1 persen. Sebanyak 676 bank labanya lebih kecil daripada setahun sebelumnya, dan 501 lebih besar. Sebanyak 137 bank berbalik dari untung menjadi rugi, sementara 91 bank berbalik dari rugi menjadi untung.
BOPO 89,8 persen berarti bank di posisi tengah mengeluarkan delapan puluh sembilan rupiah lebih untuk setiap seratus rupiah pendapatannya. Setahun sebelumnya delapan puluh delapan rupiah.
Penurunan laba ini tidak datang dari pencadangan. Beban cadangan kerugian kredit, median per bank, justru turun dari 2,88 persen ke 2,16 persen dari kredit. Bank-bank ini menyisihkan lebih sedikit untuk kredit macet, dan labanya tetap turun.
Bunga kredit turun lebih cepat daripada bunga simpanan
Laporan publikasi BPR, OJK; diolah IDEAL
| Periode | Pendapatan bunga / kredit | Biaya dana |
|---|---|---|
| Des 2024 | 19,23% | 5,55% |
| Mar 2025 | 20,47% | 5,63% |
| Jun 2025 | 20,25% | 5,58% |
| Sep 2025 | 19,84% | 5,53% |
| Des 2025 | 19,61% | 5,37% |
| Mar 2026 | 18,87% | 5,34% |
| Jun 2026 | 18,72% | 5,34% |
| Sep 2026 | 18,35% | 5,25% |
Kolom pertama menunjukkan berapa bunga yang diterima bank dari setiap seratus rupiah kredit dalam setahun. Kolom kedua menunjukkan berapa bunga yang dibayar bank untuk setiap seratus rupiah tabungan dan deposito. Selisih keduanya adalah sumber utama laba BPR.
Dari September 2025 ke September 2026, pendapatan bunga kredit di bank posisi tengah turun 1,48 poin, dari 19,84 ke 18,35 persen. Biaya dananya hanya turun 0,28 poin. Jadi bank menerima jauh lebih sedikit dari kreditnya, sementara ongkos simpanannya hampir sama.
Laporan publikasi tidak memberi tahu sebabnya. Bunga kredit bisa turun karena persaingan dengan bank umum dan lembaga pembiayaan, karena kredit direstrukturisasi dengan bunga lebih ringan, atau karena bunga dari kredit bermasalah tidak lagi boleh diakui sebagai pendapatan. Kredit bermasalah di industri memang belum turun: NPL median 1.177 bank tadi nyaris tidak bergerak, sekitar 14,2 persen di kedua periode.
Sepertiga BPR asetnya menyusut
Pertumbuhan tiga persen adalah angka gabungan. Per bank, median pertumbuhan aset 1.177 BPR tadi 3,64 persen, tapi 411 bank, atau 34,9 persen, asetnya lebih kecil daripada setahun sebelumnya.
Industri BPR juga makin bertumpu pada bank besarnya. Seratus BPR terbesar memegang 54,3 persen aset seluruh BPR pelapor per September 2026.
NPL median bertahan di sekitar 14 persen
Laporan publikasi BPR, OJK; diolah IDEAL
| Periode | BPR pelapor | NPL median | BOPO median | ROA median | CAR median |
|---|---|---|---|---|---|
| Des 2024 | 1.352 | 11,19% | 86,8% | 1,95% | 38,5% |
| Sep 2025 | 1.323 | 13,91% | 87,9% | 1,97% | 39,1% |
| Des 2025 | 1.309 | 12,75% | 87,5% | 2,02% | 39,0% |
| Mar 2026 | 1.292 | 14,07% | 90,3% | 1,46% | 38,4% |
| Jun 2026 | 1.249 | 14,30% | 89,2% | 1,62% | 38,3% |
| Sep 2026 | 1.213 | 14,16% | 89,7% | 1,64% | 38,7% |
NPL 14 persen berarti di bank posisi tengah, dari setiap seratus rupiah yang dipinjamkan, empat belas rupiah tidak kembali sesuai jadwal. Angka itu naik hampir tiga poin sejak Desember 2024, lalu bertahan di sekitar 14 persen selama tiga triwulan terakhir. Pola naik-turun di bulan Desember kami bahas di artikel NPL bulan September.
179 BPR lolos semua gerbang
Di tengah angka-angka itu, 179 BPR lolos seluruh gerbang kehati-hatian kami per September 2026, sekitar satu dari tujuh. Gerbang adalah saringan ya atau tidak, misalnya kredit macet di atas 7,5 persen, beban melebihi pendapatan, atau modal inti di bawah Rp6 miliar. Satu jawaban buruk sudah cukup untuk mencoret sebuah bank. Daftar lengkapnya ada di halaman BPR IDEAL Terbaik di matriks.
Ada juga 15 bank yang NPL-nya turun empat triwulan berturut-turut atau lebih dan kini lolos semua gerbang. Caranya tidak sama. Sebagian menagih kreditnya, sebagian menghapus buku, dan sebagian menurunkan NPL lewat kredit baru yang tumbuh cepat. Ketiga cara itu menghasilkan angka yang sama tapi artinya berbeda, seperti yang kami bahas di artikel tentang NPL dan hapus buku.
Satu contoh yang jelas dari jenis pertama adalah PT BPR Permata Sedana di Kabupaten Badung, Bali. Kredit bermasalahnya Rp 4,30 miliar per Maret 2025 dan tinggal Rp 0,79 miliar per September 2026, sementara hapus buku yang kami taksir sepanjang rentang itu kurang dari Rp 0,9 miliar. NPL-nya turun dari 12,34 persen ke 1,40 persen. Keadaan itu benar per September 2026, dan bisa berubah di laporan berikutnya.
Batas pembacaan angka ini
- Semua angka berasal dari laporan yang diterbitkan bank sendiri. Laporan
triwulanan tidak diaudit, dan angkanya bisa direvisi.
- Data kami hanya mencakup BPR konvensional. BPR Syariah tidak termasuk,
sehingga angka gabungan kami tidak sama dengan statistik OJK untuk BPR dan BPR Syariah.
- Laba di laporan triwulanan adalah laba sejak Januari. Membandingkan
September dengan September aman, tapi bank yang baru menyerap BPR lain bisa mencatat laba dengan cara berbeda, karena itu mereka kami keluarkan dari perbandingan per bank.
- Pendapatan bunga terhadap kredit dan biaya dana kami hitung sendiri dari
laporan laba rugi dan neraca, lalu disetahunkan. Rasio NIM yang dilaporkan bank berubah tajam secara serentak di antara Desember 2025 dan Maret 2026, lebih mirip perubahan cara lapor daripada perubahan usaha, jadi tidak kami pakai.
- Hapus buku tidak diterbitkan bank. Angka hapus buku di atas adalah taksiran
kami dari pergerakan cadangan kerugian, dan bisa meleset.
- Dua puluh lima bank yang berhenti melapor tanpa tanda penggabungan tidak
otomatis tutup. Sebagian mungkin hanya terlambat menerbitkan laporan.
Untuk pengurus BPR: bandingkan selisih bunga Anda
Pendapatan bunga, biaya dana, dan BOPO bank Anda, beserta posisinya dibanding bank sekelas, ada di matriks IDEAL. Kalau laba bank Anda turun tahun ini, mulailah dari selisih kedua bunga itu: apakah pendapatan bunga kreditnya yang turun, atau biaya dananya yang belum ikut turun.
Kalau angka kami berbeda dengan laporan publikasi bank Anda, jalur koreksinya ada di halaman metodologi.
Sumber
IDEAL adalah alat analisis independen berbasis laporan publikasi OJK (cfs.ojk.go.id), bukan Tingkat Kesehatan (TKS) resmi OJK, bukan rekomendasi penempatan dana, dan bukan jaminan atas kondisi BPR mana pun. Angka yang dikutip di artikel ini berasal dari laporan yang bank publikasikan sendiri dan dapat ditelusuri ulang oleh siapa pun. Keberatan atau hak jawab: lihat Koreksi & hak jawab.


